Sabtu, 07 Mei 2016

ALLAH berbeda dengan makhluk

Yang jelas TIDAK ADA SESUATU APAPUN YANG MENYAMAI ALLAH.

Coba mari berfikir.

Sebelum ada Arsy, langit dan bumi kita tau tidak mana arah atas mana arah bawah? Waktu itu Allah dimana?

Yang dinamakan "Tempat" dan "Arah" itu makhluk atau bukan?

Ketika belum terciptanya "Arah" Allah ada dimana?

Sejatinya kalau ada pertanyaan "Allah ada dimana?" itu sama saja menanyakan tempat Allah. Allah sebelum menciptakan "arah" dan "tempat" itu tidak membutuhkan mereka, dan setelah Allah mencicipkanmu "arah" dan "tempat" Allah pun tidak membutuhkan mereka.

Adapun kalau ada ayat seperti ini

الرحمن على العرش استوى

Maka diartikan "Allah -istiwa- atas 'aras"

Biarkan saja Allah yang tahu hakikat makna "istawaa"

Banyak dzahir ayat yang seperti itu tapi biarlah Allah yang tahu hakikatnya.

Allah lebih tahu tentang diri-Nya sendiri

BID'AH

Niat terletak pada hati, betul itu.

Tidak masalah memang ketika kita akan melakukan wudlu, atau shalat atau ibadah lainnya  kita tidak mengucapkan lafal lafal niat. Karena ketika kita sudah melakukan sesuatu dengan sadar maka sebenarnya sudah tersimpan niat juga di hati.

Misalnya saya mengambil baju dari lemari, maka ketika tangan saya mengambil dan lalu saya pakai itu semua pada hakikatnya sudah ada niat. Walaupun saya ketika ambil baju tidak berucap "Aku niat ambil baju" itu sudah sah. Sebenarnya simpelnya seperti itu.

Tapi kenapa ada yang mengajarkan untuk sebelum wudlu atau shalat kita melafalkan niat?

Itu untuk supaya menguatkan dan mengingatkan kembali supaya hati tertata sehingga benar benar sadar bahwa kita sedang shalat. Dan ketika mengucapkan takbir fikiran kita fokus, tidak memikirkan sesuatu selain shalat.

Fokus/khustu' dalam shalat itu wajib (Tapi karena  khusyu' dalam seluruh shalat itu masyarakat umum sulit melakukannya maka di beberapa kitab fiqih menyatakan setidaknya mampu khusyu' ketika takbirotul ihram)

Apa hukumnya melakukan sesuatu yang untuk membantu terwujudnya kebaikan?

Jadi melafalkan niat itu dibuat untuk sebagai sarana saja. Walaupun tidak harus dipakai.

Sebagaimana Al-Qur'an dicetak di jaman sekarang itu juga sarana untuk menjaga dan menyebarkan Al-Qur'an. Atau membangun sebuah madrasah sebagai sarana terjadinya proses ta'liim wa ta'allum (mengajar dan belajar)

Mengenai bid'ah maka perlu diketahui bahwa

Secara bahasa artinya adalah menciptakan sesuatu yang belum ada contoh sebelumnya. Misal membuat suatu penemuan teknologi dan lainnya. Bahkan alam ini pun bid'ah (ciptaan) dari Allah.
بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
(Allah) Pencipta langit dan bumi
[QS. Al-Baqarah: Ayat 117]
Kita lihat kata بديع (Pencipta) dan kata بدعة itu masih dari akar kata yang sama yaitu بدع

2. Adapun bid'ah secara agama (hukum islam) adalah menciptakan sesuatu (baik keyakinan ucapan atau tindakan) sebagai sarana ibadah yang jelas menyalahi aturan aturan Al-Qur'an dan hadist. Ini yang dimaksud dalam hadist

كل بدعة ضلالة..... إلىخ..

misalnya ada yang sengaja menambahkan jumlah rekaat subuh menjadi 3 rekaat, atau mengurangi jumlah rekaat shalat dzuhur atau mewajibkan puasa di hari hari tertentu yang padahal tidak ada dalil apapun.

Apabila ada yang bersih kukuh bahwa bid'ah itu tidak ada pembagian pembagian itu betul apabila yang dimaksud adalah bid'ah secara agama. Jadi menurut pendapat ini seperti mencetak Al-Qur'an, membuat madrasah, membangun pondok, menandai tulisan alquran guna untuk supaya mudah dipelajari dan lainnya itu bukan bid'ah karena termasuk masih dalam koridor hadist

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها"

Barang siapa yang merintis tindakan baik dalam islam maka baginya pahala dari tindakan baik itu dan pahala orang yang melakukan tindakan baik itu.

Adapun apabila ada yang menyebutkan bahwa bid'ah itu ada yang hasanah dan sayyiah maka itu apabila memandang dari sudut pandang bid'ah secara bahasa. Jadi  membuat madrasah, mencetak Al-Qur'an, menandai tulisan Al-Qur'an itu adalah memang bid'ah tapi termasuk hasanah (baik). Tapi ingat sejatinya bukan bid'ah secara syariat

Karena membangun pondok, madrasah itu nanti untuk supaya terciptanya kegiatan belajar mengajar dan sudah banyak hadist yang menjelaskan tentang kebaikan belajar mengajar, menandai tulisan Al-Qur'an untuk supaya lebih mudah mempelajari Al-Qur'an, hadis tentang mempelajari Al-Qur'an sudah mashur.

Banyak hal di dunia ini yang memang termasuk bid'ah secara bahasa tapi sejatinya bukanlah bid'ah dalam syariat.

Wallahun A'lam

Silahkan pendapat teman teman.

TAHLIL

TAHLIL

Tahukah bahwa ruqyah itu sebenarnya juga tradisi jahiliah? Bahkan dulunya termasuk syirik?

Perhatian hadist berikut

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah ruqyah , jimat, dan pelet adalah kesyirikan.” (HR. Abu Daud no. 3385, Ibnu Majah no. 3521, dan Ahmad no. 3433)

Lalu perhatikan hadist berikut

Auf bin Malik Al Asyja’i berkata;

كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

“Kami biasa melakukan ruqyah pada masa jahiliyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah! bagaimana pendapatmu tentang ruqyah?’ beliau menjawab, “Peragakanlah cara ruqyah kalian itu kepadaku. Tidak ada masalah dengan ruqyah selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim no. 4079)

Ruqyah yang asalnya syirik ternyata oleh Rasulullah diperbolehkan apabila kesyirikannya tidak ada di dalamnya.

Sekarang TAHLIL.

Secara bahasa tahlil artinya adalah mengucapkan LAA ILAAHA ILLAALLOH

Secara kebiasaan Mungkin di Indonesia banyak cara melakukan tahlil tapi saya simpulkan bahwa Tahlil itu berisi setidaknya

1. Membaca Al-Qur'an
2. Membaca dzikir
3. Berdoa

Dari tiga hal tersebut adakah dalilnya? Pasti banyak.

Tahlilan itu tidaklah wajib jadi apabila ada yang tidak melakukan juga tidak masalah.

Ruqyah apabila memang ada kesyirikan itu memang jelas salah

Tahlil kalau memang ada kesyirikan itu juga salah.

Tapi tahlilan yang isinya 3 hal di atas apa ada kesyirikannya?

Mengenai doa dalam tahlil

أدعوني أستجب لكم

Berdoalah kalian semua kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuk kalian.

Setiap orang berhak berdoa mungkin minta diberikan rizki, rumah, dan macam macam karena doa isinya tergantung dari keinginan si pendoa. Dan si pendoa yakin bahwa Allah Maha Kuasa. Kuasa untuk mengabulkan doanya

Ketika seorang muslim membaca Al-Qur'an, dan berdzikir memang Allah janjikan pahalanya untuk dirinya. Tapi ketika seorang muslim itu berdoa kepada Allah seperti ini

"Ya Allah berikanlah pahala bacaan Al-Qur'anku dan dzikirku untuk fulan bin fulan (orang yang telah mati )"

Kira kira Allah bisa tidak mengabulkan doa itu. Bagaimana pendapat teman teman?

Jumat, 29 April 2016

Dua bagian agama

Ada 2 bagian dalam agama islam ini

1. Meninggalkan larangan
2. Menjalankan taat

*Meninggalkan larangan terasa amat berat berbeda dengan ketaatan. Melakukan ketaatan masih umum banyak yang mampu melakukannya sedangkan meninggalkan keinginan ego tidak akan mampu kecuali orang orang yang sangat mendalam keyakinannya. Oleh karena itu Rasulullah bersabda

Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan dan orang yang berjihad adalah orang yang memerangi keinginan egonya.

Ketika kita berlaku maksiat sebenarnya kita melakukan itu dengan fasilitas yang Allah berikan kepada kita seperti dengan mata, mulut dan sebagainya yang itu semua adalah hakikatnya adalah nikmat dan amanah dari-Nya untuk kita. Yah itu semua AMANAH, jadi jangan sampai kita merasa bahwa kita telah menjadi orang yang AMANAH kalau masih belum mampu menjaga anggota tubuh lahir dan batin kita. Maka dari itu sebenarnya sangat sulit ditemukan di zaman sekarang orang yang benar-benar amanah. Semoga kita sedang menuju ke sifat amanah itu.

Menggunakan fasilitas nikmat Allah untuk mendurhakai-Nya adalah hal yang sungguh kufur dan berkhianat terhadap amanah-Nya adalah sungguh kesalahan fatal. Setiap anggota tubuh kita adalah laksana rakyat kita. Maka coba kita lihat diri ini bagaimanakah kita dalam menjaga mereka (anggota tubuh). Setiap kita adalah PEMELIHARA dan setiap kita akan dipertanyakan tentang pemeliharaan kita.

Menulis adalah salah satu caraku untuk mengikat dan mengingat ilmu, dan jalan untuk menasihati dan mencambuk diri sendiri.

Jumat, 22 April 2016

Kepribadian

Segala puji bagi Allah yang mana Dia menciptakan berbagai macam makhluk. Dan di antara makhluk tersebut ada yang namanya manusia. Pada diri manusia pun Allah menciptakan berbagai perbedaan, ada yang senang dan menikmati kesendiriannya juga sangat tertutup pribadinya atau ada yang mengistilahkannya INTROVERT, ada juga yang senang dan tambah bersemangat apabila berkumpul dengan lainnya, senantiasa mudah terbuka atau ada yang mengistilahkannya EKSTROVERT. Disamping pengelompokan ke dua istilah tersebut ada juga yang mengelompokan pribadi dasar manusia ke dalam 4 macam
1. Koleris : Cenderung suka memimpin dan tidak takut tantangan
2. Sanguin : Cenderung riang, penuh semangat
3. Melankolis : Cenderung ingin kesempurnaan dan teliti
4. Phelagmatis : Cenderung santai dan tenang
Dari 4 kepribadian itu dalam diri manusia terkadang juga terkombinasi dari 2 kepribadian misalnya koleris+melankolis atau melankolis+phelagmatis dan lainnya. Kalau di kalangan Indonesia bahkan ada yang mengelompokkan suatu daerah atau suku tertentu dengan ciri khas kepribadian tertentu. Mungkin pernah kita dengar orang berkata "orang jawa itu lembut" ada juga "orang batak itu keras" dan lain sebagainya.

Sebenarnya baik dari kepribadian kepribadian itu ada kekurangan dan kelebihan masing masing yang bisa dijadikan cermin antara satu dan lainnya untuk mengetahui kelebihan kelebihan dan kekurangan kekurangan masing-masing. Lalu bagaimanakah caranya kekurangan kekurangan itu diperbaiki dan apa ukuran yang ideal itu? Untuk memperbaiki itu maka  Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyempurnakan akhlak akhlak yang masih kurang pada diri manusia. Yah, Rosulullah adalah sebagai panutan kita, sebagai penyeimbang kepribadian manusia. Beliau Sang Pemimpin yang penuh semangat begitu teliti dan begitu tenang. Lalu bagaimana kita meneladani beliau sedangkan beliau sudah tiada? Kita masih bisa meneladani Akhlak beliau melalui Al-qur'an dan Al-hadist. Pernahkah kita dengar kata kata berikut "Rasulullah Akhlaknya adalah Al-qur'an" atau "Rasulullah adalah Al-qur'an yang berjalan"?. Namun terkadang kita kesulitan untuk memahami Al-qur'an maka dari itu Allah melahirkan ulama ulama sebagai pewaris Rasulullah, kita mempelajari karya karya beliau yang mana tersirat untaian kata kata bijak nan indah untuk supaya kita memahaminya.

Tapi kenapa kita sulit untuk mengamalkan nasehat nasehat dari para ulama?

Mungkin ada beberapa faktor penyebabnya tapi salah satunya adalah hati i kita memang masih bodoh. Kita ibaratkan saja sebagai pasien dan para Nabi dan Rasul serta para Ulama itu adalah dokternya. Kita Sang pasien hanya mengikuti anjuran anjuran dokter tersebut dalam meminum obat tanpa mengetahui perincian obat itu dan bahan bahan obat itu. Dengan menjalankan apa saran saran dokter tersebut dan melakukannya secara konsisten diharapkan lama lama efek akan terasa dalam hati.
Memang beda penyakit fisik dan penyakit hati. Penyakit fisik akan mudah terasa apabila menyerang seseorang akan tetapi penyakit hati sulit diidentifikasi kecuali dengan perenungan yang mendalam. Masih ingatkah kebandelan kita waktu kita masih kecil? Apakah ketika itu kita merasa bersalah dalam kebandelan kita? Atau baru kita sadari setelah kita merenung dan akal kita semakin dewasa?
Merenung atau tafakkur tentang diri memang sangat penting karena dengan merenung hati kita semakin dewasa.

Ustadzah bagaimana pandangan Njenengan tentang ini?

Oiya tidak lupa saya ucapkan banyak terimakasih untuk Pak Heri dan Bu Tia yang pernah meminjami saya buku tentang personality, dari buku tersebut saya menjadi sedikit tahu tentang pengelompokan kepribadian manusia.

Syukron

Rabu, 06 April 2016

Tasawwuf

TASAWWUF

Kita tahu bahwa dalam diri manusia itu ada jasmani dan rohani,
Kita juga tahu bahwa dalam agama islam itu berisi perintah dan larangan.

Jasmani dan rohani dalam agama kita memiliki aturan masing masing.

Kita ambil contoh shalat.
Ketika kita shalat tugas jasmani kita adalah melakukan suatu perbuatan yang berisi bacaan bacaan tertentu dan gerakan gerakan tertentu serta menghindari dari melakukan hal hal tertentu supaya shalat tidak batal.
Adapun rohani kita tugasnya adalah berusaha khusyu' ketika melakukan shalat tersebut dan menghindari dari terjadinya ketidak konsentrasian Dan banyak contoh ibadah ibadah lain baik ibadah mahdloh ataupun ghairu mahdloh, baik dalam bergaul dengan Allah maupun bergaul dengan sesama makhluk.

Jadi Tasawwuf itu adalah kita senantiasa berusaha melakukan dan menjalankan agama secara penuh lahir dan batin kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun. Baik dalam keadaan sehat, sakit atau dalam berbisnis, menjadi petani, menjadi karyawan, menjadi pemimpin dan perbuatan perbuatan lainnya yang intinya itu adalah MENJAGA ADAB dalam setiap waktu dan keadaan supaya sesuai dengan tuntutan agama.

إن التصوف كله لهو الأدب
Sesungguhnya tasawwuf seluruhnya adalah ADAB. (Hidayatul Adzkiya)

Jadi apabila kita beranggapan bahwa tasawwuf tidak mementingkan syariat itu adalah kesalahan.

Maka seumpama kita secerdas dan sebaik apapun hatinya apabila kita kemana mana telanjang maka kita tidak bisa dianggap manusia yang normal.

Atau Sebagus apapun pakaian yang kita kenakan akan tetapi cara berfikir dan perilaku kita sembarangan maka kita pun tidak bisa dianggap manusia yang baik.

Jadi hati dan jasad harus tetap selaras dengan aturan agama.

Minggu, 21 Februari 2016

Permulaan hidayah itu?

Masih lanjutan catatan catatan kajian di atas

Setelah Sang penulis membeberkan tentang macam macam seseorang dalam mengaji, sekarang penulis akan memulai menjelaskan tentang apa sih PERMULAAN HIDAYAH yang dulu pernah disinggung di kajian sebelumnya?

Baik, ketika di hati kita menanyakan tentang Bidayatul hidayah (permulaan petunjuk) untuk nantinya kita menge-tes dan mengoreksi diri kita dan melatih nafsu kita maka beliau menjawab bahwa "Permulaan hidayah itu adalah dzahir/bagian luar dari ketakwaan, sedangkan puncak dari hidayah itu adalah bathin/bagian dalam dari ketakwaan. Tidak ada kesuksesan sejati kecuali dengan ketakwaan dan tidak ada hidayah kecuali bagi orang orang yang bertaqwa"

Taqwa adalah menjalankan perintah perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya

*jadi maksudnya adalah apabila kita sudah menghiasi diri kita dengan perilaku perilaku perintah agama walaupun mungkin di hati masih terasa berat dan malas serta menjauhi larangan larangan agama walaupun mungkin masih terasa berat juga, maka itu adalah awal kita melangkah di permulaan hidayah.

Adapun apabila hati kita sudah merasakan indahnya beribadah sebagaimana Rasulullah dan para orang orang shalih lainnya sehingga shalat kita menjadi sangat khusyu' dan mencegah diri kita dari perbuatan keji dan mungkar, terasa sangat menenangkan hati, tutur kata dan budi pekerti kita menjadi indah dan penuh hikmah yang pada intinya semua ketaatan dan larangan sudah bisa kita patuh dengan penuh keikhlasan dan keridloan serta kenyamanan walaupun seumpama hanya melakukan sendirian, maka ketika itu kita mulai menuju pada puncaknya hidayah sehingga tercermin dari semua perbuatan kita yang ikhlas,

Sungguh mengagumkan urusan orang yang sudah seperti itu, semua perkara orang tersebut itu menjadi baik. Apabila ia tertimpa kesusahan ia mampu bersabar dan ikhlas dari hati yang paling dalam, maka ia mendapatkan kebaikan dan pahala. Ketika tertimpa kebahagiaan ia bersyukur, maka ia juga mendapatkan kebaikan dan pahala.

Lalu sudahkah kita seperti itu? Sudah maniskah hati kita? Ketika hati kita manis maka yang keluar dari budi pekerti kita juga manis. Ketika hati kita masih pahit maka ya mungkin terkadang kita masih bisa luarnya terlihat manis akan tetapi kepahitan hati kita akan terlihat dari cara ketika kita melupakan emosi, bagaimana cara kita berinteraksi dengan orang yang berperilaku buruk terhadap kita, dan bagaimana cara kita berdialog dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita.

*Ada sebuah khadis tentang perdebatan semoga kita bisa mengambil pelajaran

من ترك المراء و هو مبطل بنى الله له بيتا في ربض الجنة و من ترك المراء و هو محق بنى الله له بيتا في أعلى الجنة

"Barang siapa Siapa  yang meninggalkan  perdebatan  sedang  ia  dalam  keadaan  salah,  maka  Allah  akan  membangun untuknya  sebuah  rumah  di  tepi  surga.  Dan barangsiapa siapa  yang  meninggalkan  perdebatan  padahal  dia dalam  posisi  yang  benar, maka Allah  akan  membangun  untuknya  sebuah  rumah  di  surga  yang paling  tinggi.”

Karena ketakwaan itu berisi perintah dan larangan maka Sang Penulis membuat kitab ini berisi
1. Adab adab ketaatan/perintah
2. Adab adab menjauhi larangan
Dan akan ditambahkan bagian ketiga yaitu
3. Adab adab pergaulan.

Untuk rabu besok in syaa Allah kita sudah akan memulai bagian yang pertama.

Semoga bermanfaat aamiin.

Sabtu, 20 Februari 2016

Keadaan keadaan penuntut ilmu Bag 2

3. Golongan yang ketiga adalah golongan orang-orang yang sudah dikalahkan oleh syaitan, maka orang orang dari golongan ini menjadikan ilmunya sebagai alat untuk memperbanyak harta benda, bermegah megahan dengan kedudukan, merasa perkasa dengan banyaknya pengikut, mereka membuat reka reka dengan ilmunya untuk memperoleh keinginannya, jadi menempatkan dalil tidak pada tempatnya namun dengan hawa nafsu dan egonya. Sedangkan dalam keadaan tersebut mereka menyimpan keyakinan dalam hatinya bahwa mereka adalah dalam keadaan luhur dan tinggi di sisi Allah karena mereka sudah benar benar merasa di jalan para ulama dan termasuk bagian dari ulama. Selain itu tampilan dan gaya mereka dalam berpakaian dan berbicara persis menyerupai para ulama padahal mereka lahir dan batinnya selalu bergegas dengan keduniaan.

Golongan ini menurut Sang Penulis adalah termasuk golongan yang celaka dan kurang akalnya serta tersesat tanpa sadar. Karena putus dan sulitnya berharap untuk supaya orang orang dari golongan ini bertobat soalnya mereka sudah yakin mereka termasuk orang orang yang berbuat baik. Mereka lupa akan firman Allah

ياأيها الذين أمنوا لم تقولون ما لا تفعلون

Wahai orang orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang tidak kalian kerjakan?

Dan golongan ini termasuk golongan yang dimaksud oleh Rasulullah

انا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال. فقيل وما هو يا رسول الله؟ فقال علماء السوء

Aku dari selain dajjal lebih khawatir atas kalian daripada khawatir terhadap dajjal. Lalu Beliau ditanya. "Apakah itu (Sesuatu selain dajjal yang lebih menakutkan daripada dajjal) wahai Rasulullah?" Lalu Beliau bersabda "Ulama buruk"

*Ada juga khadist lain

إن أخوف ما أخاف على أمتي الأئمة المضلون (رواه الإمام أحمد و الطبراني عن أبي الدرداء)

Sesungguhnya lebih menakutkannya sesuatu yang aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan

Dan juga

إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان (رواه أحمد بن حنبل عن عمر بن الخطاب)

Sesungguhnya lebih menakutkannya sesuatu yang aku takutkan atas umatku adalah setiap orang munafik yang pintar lisannya

Kenapa bisa seperti itu? Karena dajjal tujuan akhirnya adalah menyesatkan dan ini tidak samar bagi seorang mu'min, sedangkan golongan ini walaupun mereka dengan lisan dan ucapannya mendorong manusia untuk menjauhi dunia, mereka mengajak manusia kepada dunia dengan tindakan tindakannya, sedangkan tindakan itu lebih fasih daripada ucapan dan watak manusia itu lebih mudah condong kepada melihat dan meniru tindakan tindakan daripada menuruti ucapan ucapan.

Jadi apa yang dirusak dengan perbuatan perbuatan dari golongan ini hakikatnya itu lebih banyak daripada apa yang diperbaiki dengan ucapan ucapan mereka.

Karena orang awam itu lebih berani untuk mencintai dunia ketika para ulama berani juga mencintai dunia.

Terkadang orang awam beralasan seperti ini "Itu yang ulama juga kaya gitu jadi ya wajar kalau aku juga seperti itu"

Jadilah ilmu dari golongan ini penyebab beraninya hamba Allah untuk berlaku maksiat kepada-Nya, dan jadilah golongan ini permainan bagi nafsu bodoh mereka. Terkadang nafsu mereka mengajak kepada mereka untuk berangan angan mendapatkan pahala, dan terkadang nafsu mereka mengajak untuk berharap mendapatkan limpahan harta dan keinginan keinginan berlebihan lainnya dan terkadang Nafsu mereka juga mengajak untuk meminta pahala kepada Allah sebab ilmu yang mereka punya dan terkadang pula nafsu mereka menjadikan mereka beranggapan bahwa mereka sudah lebih baik dari kebanyakan hamba Allah yang lainnya.

Sang penulis lalu menasihati kita.
Jadilah kita termasuk golongan yang pertama dan berhati hatilah dari tergolong ke golongan ke dua karena banyak orang yang menunda nunda yang tiba-tiba ajal menjemputnya sebelum bertaubat dan akhirnya menyesal, lalu jagalah benar benar diri kita dari menjadi golongan yang ketiga karena kita bisa menjadi benar-benar celaka yang sulit diharapkan keselamatannya dan sulit dinantikan kembali menjadi baiknya.

*Semoga materi ini bisa menjadi timbangan untuk hati kita dan menambah kebaikan di diri kita sehingga kita bisa menjadi pemimpin bagi diri kita khususnya dan bisa menjadi pemimpin yang baik bagi yang lainnya.
Semoga ilmu agama yang kita pelajari itu menjadi penyetir bagi keahlian keahlian kita yang lainnya, ahli bertani,  ahli kedokteran dan keahlian keahlian lainnya sehingga ilmu agama itu yang menjadi pemimpin bagi ilmu ilmu yang lainnya.

Kita banyak keahlian dan ilmu formal namun tidak disetir dengan ilmu agama maka kitapun akan rusak.
Inilah awal mula menjadi seorang pemimpin yaitu berusaha bisa memimpin diri sendiri dengan baik.

Semoga kita bisa ya. Dan mohon doa kebaikannya selalu. Bukan berarti saya menyampaikan seperti ini adalah yang sudah lebih baik dari Njenengan semua. Namun setidaknya semoga Allah memberikanku hikmah dan pemahaman lagi sehingga menjadi orang yang baik di kemudian hari.

Kalaupun ada dari tindakan dan ucapanku yang buruk, peganglah terus kebaikan kebaikan yang pernah Njenengan terima,

Jika mawar itu indah maka kagumilah keindahannya akan tetapi janganlah lupa bahwa ia memiliki duri.

Jangan karena duri engkau membenci sekuntum mawar
Dan jangan karena keindahan mawar, engkau lupa dengan duri.

Jadi mari kita gunakan akal sehat dan hati kita untuk menimbang sesuatu dan jangan lupa kita senantiasa memohon bimbingan dari Allah Sang Maha Pembimbing.
Semoga diridloi-Nya aamiin

Keadaan keadaan penuntut ilmu Bag 1

Catatan kajian Rabu, 17 Februari 2016

Sebelum kita menuju bahasan pokok kajian ini yaitu tentang keadaan keadaan manusia dalam mengaji, mari kita tengok terlebih dahulu ke masa awal awal islam

Pemimpin islam dahulu adalah pemimpin yang sungguh hebat, pemimpin islam dahulu selain ahli dalam memutuskan masalah masalah keagamaan juga ahli dan sangat teliti dalam memutuskan masalah masalah kemashlahat umat. Yah Nabi Muhammad SAW, dan para khulafa urrasyidin yang masih dekat dengan zaman Rasulullah beliau beliau adalah pemimpin yang hebat dan tidak usah meminta bantuan kepada ahli hukum islam, kalaupun ada itu sangat jarang sekali. Yaitu ketika ada sesuatu peristiwa yang memang harus dimusyawarhkan.

Dari itu maka para alim ulama di zaman tersebut dapat memfokuskan perhatian dan segala kesungguhannya kepada ilmu akhirat. Menolak mengeluarkan fatwa dan apa yang ada hubungannya dengan hukum duniawi . Mereka menghadapkan diri dengan kesungguhan yang maksimal kepada Allah sebagai yang dapat kita baca pada riwayat riwayat hidup para alim ulama tersebut.

Akan tetapi seiring bertambahnya waktu, para pemimpin pemimpin yang sekaligus ahli dalam bidang hukum agama mulai sulit dicari, maka dari itu pemimpin pemimpin tersebut terpaksa meminta bantuan kepada ulama ulama ahli hukum agama dan menyertakan mereka dalam segala hal untuk meminta fatwa dalam menjalankan hukum.

Dalam pada itu, masih ada juga ulama tabi'in yang tetap masih di suasana yang lampau, berpegang teguh pada tradisi agama, tidak melepaskan ciri ciri ulama salaf (terdahulu), mereka ini bila diminta lalu menolak dan melarikan diri sehingga terpaksalah para khalifah dan zaman tersebut melakukan pemaksaan dalam pengangkatan anggota kehakiman dan pemerintahan.

Nah ketika masyarakat umum tahu tentang hal ini, terlihatlah bagi mereka kebesaran para ulama dan perhatian para pembesar dan penguasa negara kepada ulama tersebut. Sedangkan dari pihak alim ulama itu sendiri menolak dan menjauhkan diri.

Lalu timbullah di masyarakat umum keinginan mencari ilmu  demi ingin memperoleh kemuliaan dan kemegahan dari pembesar negara, mereka bertekun mempelajari ilmu yang berhubungan dengan fatwa dan hukum. Kemudian datang ke penguasa negeri memohonkan kedudukan dan jabatan.

Diantaranya ada yang ditolak ada juga yang diterima. Yang diterima tidak luput dari kehinaan meminta minta dan mohon dikasihani maka jadilah para ulama itu meminta minta setelah sebelumnya diminta minta oleh para penguasa. Kedudukan para ulama jadi seolah jatuh di hadapan ahli dunia.

*Dalam kitab ta'limul muta'alim As-syaikh Azzarnuji menyebutkan boleh mencari kedudukan demi sekiranya bisa menjalankan amar ma'ruf nahi munkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), memperjuangkan kebenaran, meluhurkan islam dan bukan untuk ego dan diri sendiri. Akan tetapi hal ini tidak boleh dilakukan oleh sembarangan orang, karena hal seperti ini membutuhkan orang yang terlatih baik kebersihan hati dan kecerdasan pola fikir supaya bisa tetap menjaga amanah dan berkhidmah dengan sebaik-baiknya. Jadi kita berharap hasil dari mengaji kita nantinya kita bisa mengendalikan hati kita sendiri utamanya dan ketika hati kita baik maka seluruh anggota badan kita pun ikut baik dan semoga kebaikan itu tertular kepada yang lainnya.

Baik, sekarang kita langsung menuju ke pokok pembahasan.

Jadi sang penulis itu menjelaskan bahwa keadaan seseorang dalam mengaji itu ada 3 tingkatan

1. Mengaji untuk mencari bekal bagi akhiratnya dan hanya demi kridloan (kepuasan) Allah dan tempat tinggal akhirat. Maka golongan ini termasuk golongan yang beruntung. Semoga kita termasuk di dalamnya
*Ada sebuah nasihat yang pernah saya baca seperti ini
"beribadahlah, bukan untuk supaya kamu diberikan sesuatu akan tetapi supaya Allah puas denganmu. Maka apabila Allah puas denganmu, kamu akan silau dengan pemberian pemberian-Nya yang sungguh menakjubkan.

2. Mengaji demi dunia, demi mendapatkan keagungan kekuasaan dan kedudukan serta harta melimpah, Akan tetapi golongan ini menyadari dalam hatinya bahwa keadaan seperti ini adalah lemah dan tujuan seperti ini adalah hina. Golongan ini termasuk dalam keadaan yang mengkhawatirkan karena apabila tiba-tiba ajal menjemput dikhawatirkan matinya dalam keadaan su'ul khatimah dan keadaannya akan tetap dalam kekhawatiran kehendak Allah. Akan tetapi apabila golongan ini mendapat taufiq untuk bertaubat sebelum ajal menjemput dan lalu mengamalkan ilmunya serta memperbaiki dirinya maka golongan ini bisa menyusul ke golongan pertama yaitu menjadi golongan orang yang beruntung.

Untuk uraian golongan ke tiga in syaa Allah kita lanjutkan nanti nggih.

Semoga Allah meridloi kita aamiin

Ilmu harus diamalkan Bag 2

Kelanjutan catatan di atas. kamis 11 Februari 2016

Juga kita jangan sampai lupa dari sabda Beliau SAW

Aku bertemu dengan beberapa kaum di waktu aku diisra' mi'rajkan bibir mereka dipotong dengan gunting dari api lalu aku bertanya
"Siapakah anda sekalian?"
Mereka menjawab
"Kami mengajak kebaikan akan tetapi kami tidak mengerjakan kebaikan itu, dan kami melarang dari keburukan akan tetapi kami mengerjakan keburukan itu"

Sang penulis lalu menasihati bahwa janganlah kita menuruti rayuan syaitan dan terjerat oleh bujuk reka dayanya.
"Celaka bagi orang yang bodoh sekiranya ia tidak mau belajar satu kali, dan Celakalah bagi orang alim sekiranya tidak mengamalkan ilmunya seribu kali"

Jadi semoga kita senantiasa bersemangat mengaji akan tetapi tidak lupa juga akan ketajaman dari ilmu yang kita pelajari.

Orang yang pergi melewati hutan belantara dengan tidak membawa pembekalan perjalanan seperti pisau, panah atau yang lainnya dan juga kurang kehati hatian itu akan sangat rawan diterkam binatang buas binatang buas dan sulit untuk menyelamatkan diri dan atau kejadian menyedihkan lainnya.

Akan lebih baik apabila orang yang pergi melewati hutan belantara tersebut selain selalu waspada juga tidak lupa membawa pembekalan dan senjata untuk menjaga diri terkaman binatang buas dan hal lainnya.

Namun akan sama nasibnya apabila orang yang mempunyai perbekalan tersebut tidak berhati hati dan tidak menggunakannya sama sekali senjata senjata dan perbekalan tersebut apabila ada bahaya menghadang.

Semoga pelajaran pelajaran ini masuk dan terpatri di hatiku terutamanya dan masuk di hati istriku, hati anakku dan hati orang-orang terdekatku dan yang lainnya sehingga membuahkan perbuatan yang sesuai dengan ilmu dan diridloi-Nya.

Untuk catatan hari rabu 17 Februari 2016 kemarin in syaa Allah menyusul.

Ilmu harus diamalkan Bag 1

Catatan kajian kamis, 11 Februari 2016
Setelah sebelumnya kita diarahkan untuk menjaga dan memperbaiki niat dalam mengaji, serta tahu bahwa Hidayah itu memiliki permulaan dan memiliki puncaknya maka pada kesempatan kali ini sang penyusunan kitab memberikan isyarat bahwa maksud beliau menyusun kitab ini (Bidayatul Hidayah) adalah supaya diri kita ini melatih nafsu kita dan mengujinya. Nah apabila setelah kita pelajari kitab ini kita temui hati kita cenderung terhadap isi yang terdapat dalam kitab ini, serta nafsu kita menuruti dan menerimanya maka bersiaplah untuk menaiki kepada puncak hidayah dan mengarungi samudera ilmu.

Imam Malik pernah berkat "Barang siapa yang mengamalkan apa yang telah ia ketahui maka Allah akan memberikan ilmu tentang apa yang ia belum ketahui"

Namun apabila ketika kita hadapkan isi dari kitab ini kepada hati kita, kita temui hati kita menunda-nunda dalam mengamalkannya maka perlu kita curiga diri kita ini, kemungkinan diri kita masih didominasi oleh nafsu keburukan, nafsu yang bangkit oleh ajakan syaitan terkutuk yang tujuannya adalah menarik kita dengan tali reka dayanya sehingga kita akan diterkam sedikit demi sedikit dengan bujuk rayunya sehingga kita masuk dalam kebiasaan. Tujuan syaitan adalah menjerumuskan kita dalam keburukan akan tetapi di jalan yang seolah olah itu adalah kebaikan sehingga kita menjadi orang yang merugi amal perbuatannya di dalam dunia akan tetapi kita menganggap bahwa kita adalah orang yang berbuat kebaikan. Semoga Allah melindungi kita.

Memang banyak petuah petuah khadis dan atsar tentang keutamaan ilmu, derajat para Ulama, akan tetapi kita janganlah lupa dari sabda Nabi SAW

من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعدا

"Barangsiapa bertambah ilmunya akan tetapi tidak bertambah hidayahnnya, maka tidaklah bertambah kecuali bertambah jauh dari Allah"

Hal ini adalah sangat mungkin terjadi karena apabila kita merasa sudah berilmu dan merasa benar dan kita tidak hati hati, maka hati kita akan tertutup dan sulit menerima nasihat dari orang lain akhirnya timbullah penyakit penyakit hati seperti takabbur (sombong), ujub (bangga diri) dan lainnya.

Kita jangan lupa dari sabda Nabi Muhammad SAW

أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه

"Manusia yang paling berat siksanya di hari kiamat adalah orang alim yang Allah tidak memberikan manfaat akan ilmunya"

Hal ini juga sangat mungkin terjadi karena apabila ilmu kita hanya ada pada lisan kita maka kita bisa menjadi orang munafik dan orang munafik seperti di sebutkan dalam surat An-nisaa ayat 145 nantinya akan ditempatkan di tingkatan paling bawah dari neraka.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِ  ۚ  وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا  ۙ

Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka,

[QS. An-Nisa': Ayat 145]

Maka dari itu Rasulullah pernah bersabda dalam doanya
Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak bisa khusyu', amal yang tidak diterima dan dari doa yang tidak diijabah (Sudah kita tulis Arab dan terjemahnya di papan tulis)

Apabila semakin kita banyak mengaji akhlak kita semakin tertata, amal kita sesuai dengan ilmu kita maka itu salah satu kita mendapatkan manfaat dari ilmu kita.
*Ada nasihat yang pernah saya baca tentang kesabaran

Sabar itu
1. Menahan diri dari ndresulo dan marah
2. Menahan lisan dari mengeluh
3. Menahan diri dari melakukan perbuatan buruk

Adapun tentang amarah
Jika ada seseorang yang marah karenamu sampai 3 kali akan tetapi dia tidak juga berucap buruk tentang dirimu maka pilihlah dia sebagian sahabat. Karena cara marah seseorang itu memperlihatkan watak asli seseorang.

Jadi kita harus hati hati dalam mengendalikan emosional kita supaya kita pantas menjadi seorang sahabat bagi yang lain.

Bersambung dulu nggih...

Mohon doanya nggih semoga saya istri saya anak saya keluarga saya dan kerabat kerabat saya dijadikan orang orang shalih dan ahli ilmu

Niatan dalam mengaji

Kajian ini adalah dari kitab Bidayatul hidayah (permulaan hidayah). Kitab ini berisi penjelasan mengenai apa itu permulaan hidayah. Dan apakah kita telah memulai dan mengetahui awal suatu hidayah. Jadi kita akan berusaha mengorekaisi diri kita melalui pembahasan pembahasan yang akan disampaikan di dalam kitab tersebut. Kitab ini memuat 3 pembahasan pokok

1. Adab adab ketaatan
2. Adab adab menjauhi kemaksiatan
3. Adab adab pergaulan

Semoga kita bisa mengamalkan nantinya.. Amiin

Kajian tadi masih dalam muqodddimah (pengantar).

Dan kajian tadi berisi tentang niatan dalam mengaji.

Bahwa apabila kita mengaji mempunyai niatan supaya menjadi nomor satu, supaya disegani, supaya banyak manusia yang simpati, berharap dijadikan pemimpin, supaya mengumpulkan kemewahan dunia, supaya merasa lebih hebat dari yang lain maka kita sesungguhnya dalam keadaan yang salah dalam berniat.

Namun apabila niat kita dalam mengaji adalah untuk mendapatkan hidayah (petunjuk) - Menghilangkan kebodohan diri sendiri dan orang lain, menghidupkan Agama islam, menjaga kejayaan islam, mensyukuri nikmat akal dan nikmat kesehatan - bukan hanya berniat  menyampaikan kepada orang lain tanpa mengamalkan maka berbahagialah karena para malaikat mengepakan  sayapnya untuk menghormati kita ketika kita berjalan, dan ikan ikan di laut senantiasa memintakan ampun untuk kita dalam setiap tindakan kita.

Akan terapi hendaknya sebelum kita melakukan berbagai hal kita perlu tahu bahwa Hidayah (yang mana ini adalah buah dari ilmu) itu memiliki permulaan dan tujuan akhir, memiliki lahir dan batin.

Kita tidak akan bisa sampai kepada akhir dari hidayah sebelum kita menapaki permulaan dari hidayah, dan juga kita tidak akan mampu melihat batin dari hidayah sebelum kita melihat lahir dari hidayah.

InsyaAllah di kajian selanjutnya akan berisi tentang pentingnya sinkronisasi antara ilmu yang telah kita pelajari dan amal perbuatan kita.

Semoga kita bertambah petunjuknya. Amiin.

Senin, 18 Januari 2016

TAWAKAL

Tawakal (bahasa Arabالتوكُل) atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Alloh dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.
Imam al-Ghazali merumuskan definisi tawakkal sebagai berikut, "Tawakkal ialah menyandarkan kepada Alloh swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
Menurut Abu Zakaria Ansari, tawakkal ialah "keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain". Sifat yang demikian itu terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang diserahi urusan tadi. Artinya, ia betul-betul mempunyai sifat amanah (tepercaya) terhadap apa yang diamanatkan dan ia dapat memberikan rasa aman terhadap orang yang memberikan amanat tersebut.
Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Alloh, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Alloh yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Alloh. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Alloh Maha Tahu dan Maha Bijaksana.
Sementara orang, ada yang salah paham dalam melakukan tawakkal. Dia enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu. Orang semacam ini mempunyai pemikiran, tidak perlu belajar, jika Alloh menghendaki pandai tentu menjadi orang pandai. Atau tidak perlu bekerja, jika Alloh menghendaki menjadi orang kaya tentulah kaya, dan seterusnya.
Semua itu sama saja dengan seorang yang sedang lapar perutnya, seklipun ada berbagai makanan, tetapi ia berpikir bahwa jika Alloh menghendaki ia kenyang, tentulah kenyang. Jika pendapat ini dpegang teguh pasti akan menyengsarakan diri sendiri.
Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Jadi arti tawakkal yang sebenarnya -- menurut ajaran Islam -- ialah menyerah diri kepada Alloh swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam mengikuti sunnah Alloh yang Dia tetapkan.
Misalnya, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal. Pada zaman Rasululloh saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, "Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Alloh". Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, "Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal."
Robbana Taqobbal Minna.
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.
Semoga Bermanfaat.

Kamis, 14 Januari 2016

Aku membutuhkan cinta-Mu

Untuk apa aku mendapatkan pahala
Namun hati ini masih merana

Untuk apa aku mendapat syurga
Namun hati ini kurang cinta

Untuk apa aku banyak melakukan doa
Namun hati ini masih buta

Wahai Tuhan, tidaklah ada gunanya syurga tanpa cinta-Mu

Tidaklah indah hidup tanpa ma'rifat kepada-Mu

Maka, hamba memohon. Isilah hatiku dengan Cinta kepada-Mu

Merajut hidup di atas indahnya bermesraan dengan-Mu