Masih lanjutan catatan catatan kajian di atas
Setelah Sang penulis membeberkan tentang macam macam seseorang dalam mengaji, sekarang penulis akan memulai menjelaskan tentang apa sih PERMULAAN HIDAYAH yang dulu pernah disinggung di kajian sebelumnya?
Baik, ketika di hati kita menanyakan tentang Bidayatul hidayah (permulaan petunjuk) untuk nantinya kita menge-tes dan mengoreksi diri kita dan melatih nafsu kita maka beliau menjawab bahwa "Permulaan hidayah itu adalah dzahir/bagian luar dari ketakwaan, sedangkan puncak dari hidayah itu adalah bathin/bagian dalam dari ketakwaan. Tidak ada kesuksesan sejati kecuali dengan ketakwaan dan tidak ada hidayah kecuali bagi orang orang yang bertaqwa"
Taqwa adalah menjalankan perintah perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya
*jadi maksudnya adalah apabila kita sudah menghiasi diri kita dengan perilaku perilaku perintah agama walaupun mungkin di hati masih terasa berat dan malas serta menjauhi larangan larangan agama walaupun mungkin masih terasa berat juga, maka itu adalah awal kita melangkah di permulaan hidayah.
Adapun apabila hati kita sudah merasakan indahnya beribadah sebagaimana Rasulullah dan para orang orang shalih lainnya sehingga shalat kita menjadi sangat khusyu' dan mencegah diri kita dari perbuatan keji dan mungkar, terasa sangat menenangkan hati, tutur kata dan budi pekerti kita menjadi indah dan penuh hikmah yang pada intinya semua ketaatan dan larangan sudah bisa kita patuh dengan penuh keikhlasan dan keridloan serta kenyamanan walaupun seumpama hanya melakukan sendirian, maka ketika itu kita mulai menuju pada puncaknya hidayah sehingga tercermin dari semua perbuatan kita yang ikhlas,
Sungguh mengagumkan urusan orang yang sudah seperti itu, semua perkara orang tersebut itu menjadi baik. Apabila ia tertimpa kesusahan ia mampu bersabar dan ikhlas dari hati yang paling dalam, maka ia mendapatkan kebaikan dan pahala. Ketika tertimpa kebahagiaan ia bersyukur, maka ia juga mendapatkan kebaikan dan pahala.
Lalu sudahkah kita seperti itu? Sudah maniskah hati kita? Ketika hati kita manis maka yang keluar dari budi pekerti kita juga manis. Ketika hati kita masih pahit maka ya mungkin terkadang kita masih bisa luarnya terlihat manis akan tetapi kepahitan hati kita akan terlihat dari cara ketika kita melupakan emosi, bagaimana cara kita berinteraksi dengan orang yang berperilaku buruk terhadap kita, dan bagaimana cara kita berdialog dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita.
*Ada sebuah khadis tentang perdebatan semoga kita bisa mengambil pelajaran
من ترك المراء و هو مبطل بنى الله له بيتا في ربض الجنة و من ترك المراء و هو محق بنى الله له بيتا في أعلى الجنة
"Barang siapa Siapa yang meninggalkan perdebatan sedang ia dalam keadaan salah, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di tepi surga. Dan barangsiapa siapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia dalam posisi yang benar, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga yang paling tinggi.”
Karena ketakwaan itu berisi perintah dan larangan maka Sang Penulis membuat kitab ini berisi
1. Adab adab ketaatan/perintah
2. Adab adab menjauhi larangan
Dan akan ditambahkan bagian ketiga yaitu
3. Adab adab pergaulan.
Untuk rabu besok in syaa Allah kita sudah akan memulai bagian yang pertama.
Semoga bermanfaat aamiin.