Minggu, 21 Februari 2016

Permulaan hidayah itu?

Masih lanjutan catatan catatan kajian di atas

Setelah Sang penulis membeberkan tentang macam macam seseorang dalam mengaji, sekarang penulis akan memulai menjelaskan tentang apa sih PERMULAAN HIDAYAH yang dulu pernah disinggung di kajian sebelumnya?

Baik, ketika di hati kita menanyakan tentang Bidayatul hidayah (permulaan petunjuk) untuk nantinya kita menge-tes dan mengoreksi diri kita dan melatih nafsu kita maka beliau menjawab bahwa "Permulaan hidayah itu adalah dzahir/bagian luar dari ketakwaan, sedangkan puncak dari hidayah itu adalah bathin/bagian dalam dari ketakwaan. Tidak ada kesuksesan sejati kecuali dengan ketakwaan dan tidak ada hidayah kecuali bagi orang orang yang bertaqwa"

Taqwa adalah menjalankan perintah perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya

*jadi maksudnya adalah apabila kita sudah menghiasi diri kita dengan perilaku perilaku perintah agama walaupun mungkin di hati masih terasa berat dan malas serta menjauhi larangan larangan agama walaupun mungkin masih terasa berat juga, maka itu adalah awal kita melangkah di permulaan hidayah.

Adapun apabila hati kita sudah merasakan indahnya beribadah sebagaimana Rasulullah dan para orang orang shalih lainnya sehingga shalat kita menjadi sangat khusyu' dan mencegah diri kita dari perbuatan keji dan mungkar, terasa sangat menenangkan hati, tutur kata dan budi pekerti kita menjadi indah dan penuh hikmah yang pada intinya semua ketaatan dan larangan sudah bisa kita patuh dengan penuh keikhlasan dan keridloan serta kenyamanan walaupun seumpama hanya melakukan sendirian, maka ketika itu kita mulai menuju pada puncaknya hidayah sehingga tercermin dari semua perbuatan kita yang ikhlas,

Sungguh mengagumkan urusan orang yang sudah seperti itu, semua perkara orang tersebut itu menjadi baik. Apabila ia tertimpa kesusahan ia mampu bersabar dan ikhlas dari hati yang paling dalam, maka ia mendapatkan kebaikan dan pahala. Ketika tertimpa kebahagiaan ia bersyukur, maka ia juga mendapatkan kebaikan dan pahala.

Lalu sudahkah kita seperti itu? Sudah maniskah hati kita? Ketika hati kita manis maka yang keluar dari budi pekerti kita juga manis. Ketika hati kita masih pahit maka ya mungkin terkadang kita masih bisa luarnya terlihat manis akan tetapi kepahitan hati kita akan terlihat dari cara ketika kita melupakan emosi, bagaimana cara kita berinteraksi dengan orang yang berperilaku buruk terhadap kita, dan bagaimana cara kita berdialog dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita.

*Ada sebuah khadis tentang perdebatan semoga kita bisa mengambil pelajaran

من ترك المراء و هو مبطل بنى الله له بيتا في ربض الجنة و من ترك المراء و هو محق بنى الله له بيتا في أعلى الجنة

"Barang siapa Siapa  yang meninggalkan  perdebatan  sedang  ia  dalam  keadaan  salah,  maka  Allah  akan  membangun untuknya  sebuah  rumah  di  tepi  surga.  Dan barangsiapa siapa  yang  meninggalkan  perdebatan  padahal  dia dalam  posisi  yang  benar, maka Allah  akan  membangun  untuknya  sebuah  rumah  di  surga  yang paling  tinggi.”

Karena ketakwaan itu berisi perintah dan larangan maka Sang Penulis membuat kitab ini berisi
1. Adab adab ketaatan/perintah
2. Adab adab menjauhi larangan
Dan akan ditambahkan bagian ketiga yaitu
3. Adab adab pergaulan.

Untuk rabu besok in syaa Allah kita sudah akan memulai bagian yang pertama.

Semoga bermanfaat aamiin.

Sabtu, 20 Februari 2016

Keadaan keadaan penuntut ilmu Bag 2

3. Golongan yang ketiga adalah golongan orang-orang yang sudah dikalahkan oleh syaitan, maka orang orang dari golongan ini menjadikan ilmunya sebagai alat untuk memperbanyak harta benda, bermegah megahan dengan kedudukan, merasa perkasa dengan banyaknya pengikut, mereka membuat reka reka dengan ilmunya untuk memperoleh keinginannya, jadi menempatkan dalil tidak pada tempatnya namun dengan hawa nafsu dan egonya. Sedangkan dalam keadaan tersebut mereka menyimpan keyakinan dalam hatinya bahwa mereka adalah dalam keadaan luhur dan tinggi di sisi Allah karena mereka sudah benar benar merasa di jalan para ulama dan termasuk bagian dari ulama. Selain itu tampilan dan gaya mereka dalam berpakaian dan berbicara persis menyerupai para ulama padahal mereka lahir dan batinnya selalu bergegas dengan keduniaan.

Golongan ini menurut Sang Penulis adalah termasuk golongan yang celaka dan kurang akalnya serta tersesat tanpa sadar. Karena putus dan sulitnya berharap untuk supaya orang orang dari golongan ini bertobat soalnya mereka sudah yakin mereka termasuk orang orang yang berbuat baik. Mereka lupa akan firman Allah

ياأيها الذين أمنوا لم تقولون ما لا تفعلون

Wahai orang orang yang beriman, mengapa kalian mengucapkan sesuatu yang tidak kalian kerjakan?

Dan golongan ini termasuk golongan yang dimaksud oleh Rasulullah

انا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال. فقيل وما هو يا رسول الله؟ فقال علماء السوء

Aku dari selain dajjal lebih khawatir atas kalian daripada khawatir terhadap dajjal. Lalu Beliau ditanya. "Apakah itu (Sesuatu selain dajjal yang lebih menakutkan daripada dajjal) wahai Rasulullah?" Lalu Beliau bersabda "Ulama buruk"

*Ada juga khadist lain

إن أخوف ما أخاف على أمتي الأئمة المضلون (رواه الإمام أحمد و الطبراني عن أبي الدرداء)

Sesungguhnya lebih menakutkannya sesuatu yang aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan

Dan juga

إن أخوف ما أخاف على أمتي كل منافق عليم اللسان (رواه أحمد بن حنبل عن عمر بن الخطاب)

Sesungguhnya lebih menakutkannya sesuatu yang aku takutkan atas umatku adalah setiap orang munafik yang pintar lisannya

Kenapa bisa seperti itu? Karena dajjal tujuan akhirnya adalah menyesatkan dan ini tidak samar bagi seorang mu'min, sedangkan golongan ini walaupun mereka dengan lisan dan ucapannya mendorong manusia untuk menjauhi dunia, mereka mengajak manusia kepada dunia dengan tindakan tindakannya, sedangkan tindakan itu lebih fasih daripada ucapan dan watak manusia itu lebih mudah condong kepada melihat dan meniru tindakan tindakan daripada menuruti ucapan ucapan.

Jadi apa yang dirusak dengan perbuatan perbuatan dari golongan ini hakikatnya itu lebih banyak daripada apa yang diperbaiki dengan ucapan ucapan mereka.

Karena orang awam itu lebih berani untuk mencintai dunia ketika para ulama berani juga mencintai dunia.

Terkadang orang awam beralasan seperti ini "Itu yang ulama juga kaya gitu jadi ya wajar kalau aku juga seperti itu"

Jadilah ilmu dari golongan ini penyebab beraninya hamba Allah untuk berlaku maksiat kepada-Nya, dan jadilah golongan ini permainan bagi nafsu bodoh mereka. Terkadang nafsu mereka mengajak kepada mereka untuk berangan angan mendapatkan pahala, dan terkadang nafsu mereka mengajak untuk berharap mendapatkan limpahan harta dan keinginan keinginan berlebihan lainnya dan terkadang Nafsu mereka juga mengajak untuk meminta pahala kepada Allah sebab ilmu yang mereka punya dan terkadang pula nafsu mereka menjadikan mereka beranggapan bahwa mereka sudah lebih baik dari kebanyakan hamba Allah yang lainnya.

Sang penulis lalu menasihati kita.
Jadilah kita termasuk golongan yang pertama dan berhati hatilah dari tergolong ke golongan ke dua karena banyak orang yang menunda nunda yang tiba-tiba ajal menjemputnya sebelum bertaubat dan akhirnya menyesal, lalu jagalah benar benar diri kita dari menjadi golongan yang ketiga karena kita bisa menjadi benar-benar celaka yang sulit diharapkan keselamatannya dan sulit dinantikan kembali menjadi baiknya.

*Semoga materi ini bisa menjadi timbangan untuk hati kita dan menambah kebaikan di diri kita sehingga kita bisa menjadi pemimpin bagi diri kita khususnya dan bisa menjadi pemimpin yang baik bagi yang lainnya.
Semoga ilmu agama yang kita pelajari itu menjadi penyetir bagi keahlian keahlian kita yang lainnya, ahli bertani,  ahli kedokteran dan keahlian keahlian lainnya sehingga ilmu agama itu yang menjadi pemimpin bagi ilmu ilmu yang lainnya.

Kita banyak keahlian dan ilmu formal namun tidak disetir dengan ilmu agama maka kitapun akan rusak.
Inilah awal mula menjadi seorang pemimpin yaitu berusaha bisa memimpin diri sendiri dengan baik.

Semoga kita bisa ya. Dan mohon doa kebaikannya selalu. Bukan berarti saya menyampaikan seperti ini adalah yang sudah lebih baik dari Njenengan semua. Namun setidaknya semoga Allah memberikanku hikmah dan pemahaman lagi sehingga menjadi orang yang baik di kemudian hari.

Kalaupun ada dari tindakan dan ucapanku yang buruk, peganglah terus kebaikan kebaikan yang pernah Njenengan terima,

Jika mawar itu indah maka kagumilah keindahannya akan tetapi janganlah lupa bahwa ia memiliki duri.

Jangan karena duri engkau membenci sekuntum mawar
Dan jangan karena keindahan mawar, engkau lupa dengan duri.

Jadi mari kita gunakan akal sehat dan hati kita untuk menimbang sesuatu dan jangan lupa kita senantiasa memohon bimbingan dari Allah Sang Maha Pembimbing.
Semoga diridloi-Nya aamiin

Keadaan keadaan penuntut ilmu Bag 1

Catatan kajian Rabu, 17 Februari 2016

Sebelum kita menuju bahasan pokok kajian ini yaitu tentang keadaan keadaan manusia dalam mengaji, mari kita tengok terlebih dahulu ke masa awal awal islam

Pemimpin islam dahulu adalah pemimpin yang sungguh hebat, pemimpin islam dahulu selain ahli dalam memutuskan masalah masalah keagamaan juga ahli dan sangat teliti dalam memutuskan masalah masalah kemashlahat umat. Yah Nabi Muhammad SAW, dan para khulafa urrasyidin yang masih dekat dengan zaman Rasulullah beliau beliau adalah pemimpin yang hebat dan tidak usah meminta bantuan kepada ahli hukum islam, kalaupun ada itu sangat jarang sekali. Yaitu ketika ada sesuatu peristiwa yang memang harus dimusyawarhkan.

Dari itu maka para alim ulama di zaman tersebut dapat memfokuskan perhatian dan segala kesungguhannya kepada ilmu akhirat. Menolak mengeluarkan fatwa dan apa yang ada hubungannya dengan hukum duniawi . Mereka menghadapkan diri dengan kesungguhan yang maksimal kepada Allah sebagai yang dapat kita baca pada riwayat riwayat hidup para alim ulama tersebut.

Akan tetapi seiring bertambahnya waktu, para pemimpin pemimpin yang sekaligus ahli dalam bidang hukum agama mulai sulit dicari, maka dari itu pemimpin pemimpin tersebut terpaksa meminta bantuan kepada ulama ulama ahli hukum agama dan menyertakan mereka dalam segala hal untuk meminta fatwa dalam menjalankan hukum.

Dalam pada itu, masih ada juga ulama tabi'in yang tetap masih di suasana yang lampau, berpegang teguh pada tradisi agama, tidak melepaskan ciri ciri ulama salaf (terdahulu), mereka ini bila diminta lalu menolak dan melarikan diri sehingga terpaksalah para khalifah dan zaman tersebut melakukan pemaksaan dalam pengangkatan anggota kehakiman dan pemerintahan.

Nah ketika masyarakat umum tahu tentang hal ini, terlihatlah bagi mereka kebesaran para ulama dan perhatian para pembesar dan penguasa negara kepada ulama tersebut. Sedangkan dari pihak alim ulama itu sendiri menolak dan menjauhkan diri.

Lalu timbullah di masyarakat umum keinginan mencari ilmu  demi ingin memperoleh kemuliaan dan kemegahan dari pembesar negara, mereka bertekun mempelajari ilmu yang berhubungan dengan fatwa dan hukum. Kemudian datang ke penguasa negeri memohonkan kedudukan dan jabatan.

Diantaranya ada yang ditolak ada juga yang diterima. Yang diterima tidak luput dari kehinaan meminta minta dan mohon dikasihani maka jadilah para ulama itu meminta minta setelah sebelumnya diminta minta oleh para penguasa. Kedudukan para ulama jadi seolah jatuh di hadapan ahli dunia.

*Dalam kitab ta'limul muta'alim As-syaikh Azzarnuji menyebutkan boleh mencari kedudukan demi sekiranya bisa menjalankan amar ma'ruf nahi munkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), memperjuangkan kebenaran, meluhurkan islam dan bukan untuk ego dan diri sendiri. Akan tetapi hal ini tidak boleh dilakukan oleh sembarangan orang, karena hal seperti ini membutuhkan orang yang terlatih baik kebersihan hati dan kecerdasan pola fikir supaya bisa tetap menjaga amanah dan berkhidmah dengan sebaik-baiknya. Jadi kita berharap hasil dari mengaji kita nantinya kita bisa mengendalikan hati kita sendiri utamanya dan ketika hati kita baik maka seluruh anggota badan kita pun ikut baik dan semoga kebaikan itu tertular kepada yang lainnya.

Baik, sekarang kita langsung menuju ke pokok pembahasan.

Jadi sang penulis itu menjelaskan bahwa keadaan seseorang dalam mengaji itu ada 3 tingkatan

1. Mengaji untuk mencari bekal bagi akhiratnya dan hanya demi kridloan (kepuasan) Allah dan tempat tinggal akhirat. Maka golongan ini termasuk golongan yang beruntung. Semoga kita termasuk di dalamnya
*Ada sebuah nasihat yang pernah saya baca seperti ini
"beribadahlah, bukan untuk supaya kamu diberikan sesuatu akan tetapi supaya Allah puas denganmu. Maka apabila Allah puas denganmu, kamu akan silau dengan pemberian pemberian-Nya yang sungguh menakjubkan.

2. Mengaji demi dunia, demi mendapatkan keagungan kekuasaan dan kedudukan serta harta melimpah, Akan tetapi golongan ini menyadari dalam hatinya bahwa keadaan seperti ini adalah lemah dan tujuan seperti ini adalah hina. Golongan ini termasuk dalam keadaan yang mengkhawatirkan karena apabila tiba-tiba ajal menjemput dikhawatirkan matinya dalam keadaan su'ul khatimah dan keadaannya akan tetap dalam kekhawatiran kehendak Allah. Akan tetapi apabila golongan ini mendapat taufiq untuk bertaubat sebelum ajal menjemput dan lalu mengamalkan ilmunya serta memperbaiki dirinya maka golongan ini bisa menyusul ke golongan pertama yaitu menjadi golongan orang yang beruntung.

Untuk uraian golongan ke tiga in syaa Allah kita lanjutkan nanti nggih.

Semoga Allah meridloi kita aamiin

Ilmu harus diamalkan Bag 2

Kelanjutan catatan di atas. kamis 11 Februari 2016

Juga kita jangan sampai lupa dari sabda Beliau SAW

Aku bertemu dengan beberapa kaum di waktu aku diisra' mi'rajkan bibir mereka dipotong dengan gunting dari api lalu aku bertanya
"Siapakah anda sekalian?"
Mereka menjawab
"Kami mengajak kebaikan akan tetapi kami tidak mengerjakan kebaikan itu, dan kami melarang dari keburukan akan tetapi kami mengerjakan keburukan itu"

Sang penulis lalu menasihati bahwa janganlah kita menuruti rayuan syaitan dan terjerat oleh bujuk reka dayanya.
"Celaka bagi orang yang bodoh sekiranya ia tidak mau belajar satu kali, dan Celakalah bagi orang alim sekiranya tidak mengamalkan ilmunya seribu kali"

Jadi semoga kita senantiasa bersemangat mengaji akan tetapi tidak lupa juga akan ketajaman dari ilmu yang kita pelajari.

Orang yang pergi melewati hutan belantara dengan tidak membawa pembekalan perjalanan seperti pisau, panah atau yang lainnya dan juga kurang kehati hatian itu akan sangat rawan diterkam binatang buas binatang buas dan sulit untuk menyelamatkan diri dan atau kejadian menyedihkan lainnya.

Akan lebih baik apabila orang yang pergi melewati hutan belantara tersebut selain selalu waspada juga tidak lupa membawa pembekalan dan senjata untuk menjaga diri terkaman binatang buas dan hal lainnya.

Namun akan sama nasibnya apabila orang yang mempunyai perbekalan tersebut tidak berhati hati dan tidak menggunakannya sama sekali senjata senjata dan perbekalan tersebut apabila ada bahaya menghadang.

Semoga pelajaran pelajaran ini masuk dan terpatri di hatiku terutamanya dan masuk di hati istriku, hati anakku dan hati orang-orang terdekatku dan yang lainnya sehingga membuahkan perbuatan yang sesuai dengan ilmu dan diridloi-Nya.

Untuk catatan hari rabu 17 Februari 2016 kemarin in syaa Allah menyusul.

Ilmu harus diamalkan Bag 1

Catatan kajian kamis, 11 Februari 2016
Setelah sebelumnya kita diarahkan untuk menjaga dan memperbaiki niat dalam mengaji, serta tahu bahwa Hidayah itu memiliki permulaan dan memiliki puncaknya maka pada kesempatan kali ini sang penyusunan kitab memberikan isyarat bahwa maksud beliau menyusun kitab ini (Bidayatul Hidayah) adalah supaya diri kita ini melatih nafsu kita dan mengujinya. Nah apabila setelah kita pelajari kitab ini kita temui hati kita cenderung terhadap isi yang terdapat dalam kitab ini, serta nafsu kita menuruti dan menerimanya maka bersiaplah untuk menaiki kepada puncak hidayah dan mengarungi samudera ilmu.

Imam Malik pernah berkat "Barang siapa yang mengamalkan apa yang telah ia ketahui maka Allah akan memberikan ilmu tentang apa yang ia belum ketahui"

Namun apabila ketika kita hadapkan isi dari kitab ini kepada hati kita, kita temui hati kita menunda-nunda dalam mengamalkannya maka perlu kita curiga diri kita ini, kemungkinan diri kita masih didominasi oleh nafsu keburukan, nafsu yang bangkit oleh ajakan syaitan terkutuk yang tujuannya adalah menarik kita dengan tali reka dayanya sehingga kita akan diterkam sedikit demi sedikit dengan bujuk rayunya sehingga kita masuk dalam kebiasaan. Tujuan syaitan adalah menjerumuskan kita dalam keburukan akan tetapi di jalan yang seolah olah itu adalah kebaikan sehingga kita menjadi orang yang merugi amal perbuatannya di dalam dunia akan tetapi kita menganggap bahwa kita adalah orang yang berbuat kebaikan. Semoga Allah melindungi kita.

Memang banyak petuah petuah khadis dan atsar tentang keutamaan ilmu, derajat para Ulama, akan tetapi kita janganlah lupa dari sabda Nabi SAW

من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعدا

"Barangsiapa bertambah ilmunya akan tetapi tidak bertambah hidayahnnya, maka tidaklah bertambah kecuali bertambah jauh dari Allah"

Hal ini adalah sangat mungkin terjadi karena apabila kita merasa sudah berilmu dan merasa benar dan kita tidak hati hati, maka hati kita akan tertutup dan sulit menerima nasihat dari orang lain akhirnya timbullah penyakit penyakit hati seperti takabbur (sombong), ujub (bangga diri) dan lainnya.

Kita jangan lupa dari sabda Nabi Muhammad SAW

أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه

"Manusia yang paling berat siksanya di hari kiamat adalah orang alim yang Allah tidak memberikan manfaat akan ilmunya"

Hal ini juga sangat mungkin terjadi karena apabila ilmu kita hanya ada pada lisan kita maka kita bisa menjadi orang munafik dan orang munafik seperti di sebutkan dalam surat An-nisaa ayat 145 nantinya akan ditempatkan di tingkatan paling bawah dari neraka.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِ  ۚ  وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا  ۙ

Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka,

[QS. An-Nisa': Ayat 145]

Maka dari itu Rasulullah pernah bersabda dalam doanya
Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak bisa khusyu', amal yang tidak diterima dan dari doa yang tidak diijabah (Sudah kita tulis Arab dan terjemahnya di papan tulis)

Apabila semakin kita banyak mengaji akhlak kita semakin tertata, amal kita sesuai dengan ilmu kita maka itu salah satu kita mendapatkan manfaat dari ilmu kita.
*Ada nasihat yang pernah saya baca tentang kesabaran

Sabar itu
1. Menahan diri dari ndresulo dan marah
2. Menahan lisan dari mengeluh
3. Menahan diri dari melakukan perbuatan buruk

Adapun tentang amarah
Jika ada seseorang yang marah karenamu sampai 3 kali akan tetapi dia tidak juga berucap buruk tentang dirimu maka pilihlah dia sebagian sahabat. Karena cara marah seseorang itu memperlihatkan watak asli seseorang.

Jadi kita harus hati hati dalam mengendalikan emosional kita supaya kita pantas menjadi seorang sahabat bagi yang lain.

Bersambung dulu nggih...

Mohon doanya nggih semoga saya istri saya anak saya keluarga saya dan kerabat kerabat saya dijadikan orang orang shalih dan ahli ilmu

Niatan dalam mengaji

Kajian ini adalah dari kitab Bidayatul hidayah (permulaan hidayah). Kitab ini berisi penjelasan mengenai apa itu permulaan hidayah. Dan apakah kita telah memulai dan mengetahui awal suatu hidayah. Jadi kita akan berusaha mengorekaisi diri kita melalui pembahasan pembahasan yang akan disampaikan di dalam kitab tersebut. Kitab ini memuat 3 pembahasan pokok

1. Adab adab ketaatan
2. Adab adab menjauhi kemaksiatan
3. Adab adab pergaulan

Semoga kita bisa mengamalkan nantinya.. Amiin

Kajian tadi masih dalam muqodddimah (pengantar).

Dan kajian tadi berisi tentang niatan dalam mengaji.

Bahwa apabila kita mengaji mempunyai niatan supaya menjadi nomor satu, supaya disegani, supaya banyak manusia yang simpati, berharap dijadikan pemimpin, supaya mengumpulkan kemewahan dunia, supaya merasa lebih hebat dari yang lain maka kita sesungguhnya dalam keadaan yang salah dalam berniat.

Namun apabila niat kita dalam mengaji adalah untuk mendapatkan hidayah (petunjuk) - Menghilangkan kebodohan diri sendiri dan orang lain, menghidupkan Agama islam, menjaga kejayaan islam, mensyukuri nikmat akal dan nikmat kesehatan - bukan hanya berniat  menyampaikan kepada orang lain tanpa mengamalkan maka berbahagialah karena para malaikat mengepakan  sayapnya untuk menghormati kita ketika kita berjalan, dan ikan ikan di laut senantiasa memintakan ampun untuk kita dalam setiap tindakan kita.

Akan terapi hendaknya sebelum kita melakukan berbagai hal kita perlu tahu bahwa Hidayah (yang mana ini adalah buah dari ilmu) itu memiliki permulaan dan tujuan akhir, memiliki lahir dan batin.

Kita tidak akan bisa sampai kepada akhir dari hidayah sebelum kita menapaki permulaan dari hidayah, dan juga kita tidak akan mampu melihat batin dari hidayah sebelum kita melihat lahir dari hidayah.

InsyaAllah di kajian selanjutnya akan berisi tentang pentingnya sinkronisasi antara ilmu yang telah kita pelajari dan amal perbuatan kita.

Semoga kita bertambah petunjuknya. Amiin.