Sabtu, 07 Mei 2016

ALLAH berbeda dengan makhluk

Yang jelas TIDAK ADA SESUATU APAPUN YANG MENYAMAI ALLAH.

Coba mari berfikir.

Sebelum ada Arsy, langit dan bumi kita tau tidak mana arah atas mana arah bawah? Waktu itu Allah dimana?

Yang dinamakan "Tempat" dan "Arah" itu makhluk atau bukan?

Ketika belum terciptanya "Arah" Allah ada dimana?

Sejatinya kalau ada pertanyaan "Allah ada dimana?" itu sama saja menanyakan tempat Allah. Allah sebelum menciptakan "arah" dan "tempat" itu tidak membutuhkan mereka, dan setelah Allah mencicipkanmu "arah" dan "tempat" Allah pun tidak membutuhkan mereka.

Adapun kalau ada ayat seperti ini

الرحمن على العرش استوى

Maka diartikan "Allah -istiwa- atas 'aras"

Biarkan saja Allah yang tahu hakikat makna "istawaa"

Banyak dzahir ayat yang seperti itu tapi biarlah Allah yang tahu hakikatnya.

Allah lebih tahu tentang diri-Nya sendiri

BID'AH

Niat terletak pada hati, betul itu.

Tidak masalah memang ketika kita akan melakukan wudlu, atau shalat atau ibadah lainnya  kita tidak mengucapkan lafal lafal niat. Karena ketika kita sudah melakukan sesuatu dengan sadar maka sebenarnya sudah tersimpan niat juga di hati.

Misalnya saya mengambil baju dari lemari, maka ketika tangan saya mengambil dan lalu saya pakai itu semua pada hakikatnya sudah ada niat. Walaupun saya ketika ambil baju tidak berucap "Aku niat ambil baju" itu sudah sah. Sebenarnya simpelnya seperti itu.

Tapi kenapa ada yang mengajarkan untuk sebelum wudlu atau shalat kita melafalkan niat?

Itu untuk supaya menguatkan dan mengingatkan kembali supaya hati tertata sehingga benar benar sadar bahwa kita sedang shalat. Dan ketika mengucapkan takbir fikiran kita fokus, tidak memikirkan sesuatu selain shalat.

Fokus/khustu' dalam shalat itu wajib (Tapi karena  khusyu' dalam seluruh shalat itu masyarakat umum sulit melakukannya maka di beberapa kitab fiqih menyatakan setidaknya mampu khusyu' ketika takbirotul ihram)

Apa hukumnya melakukan sesuatu yang untuk membantu terwujudnya kebaikan?

Jadi melafalkan niat itu dibuat untuk sebagai sarana saja. Walaupun tidak harus dipakai.

Sebagaimana Al-Qur'an dicetak di jaman sekarang itu juga sarana untuk menjaga dan menyebarkan Al-Qur'an. Atau membangun sebuah madrasah sebagai sarana terjadinya proses ta'liim wa ta'allum (mengajar dan belajar)

Mengenai bid'ah maka perlu diketahui bahwa

Secara bahasa artinya adalah menciptakan sesuatu yang belum ada contoh sebelumnya. Misal membuat suatu penemuan teknologi dan lainnya. Bahkan alam ini pun bid'ah (ciptaan) dari Allah.
بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
(Allah) Pencipta langit dan bumi
[QS. Al-Baqarah: Ayat 117]
Kita lihat kata بديع (Pencipta) dan kata بدعة itu masih dari akar kata yang sama yaitu بدع

2. Adapun bid'ah secara agama (hukum islam) adalah menciptakan sesuatu (baik keyakinan ucapan atau tindakan) sebagai sarana ibadah yang jelas menyalahi aturan aturan Al-Qur'an dan hadist. Ini yang dimaksud dalam hadist

كل بدعة ضلالة..... إلىخ..

misalnya ada yang sengaja menambahkan jumlah rekaat subuh menjadi 3 rekaat, atau mengurangi jumlah rekaat shalat dzuhur atau mewajibkan puasa di hari hari tertentu yang padahal tidak ada dalil apapun.

Apabila ada yang bersih kukuh bahwa bid'ah itu tidak ada pembagian pembagian itu betul apabila yang dimaksud adalah bid'ah secara agama. Jadi menurut pendapat ini seperti mencetak Al-Qur'an, membuat madrasah, membangun pondok, menandai tulisan alquran guna untuk supaya mudah dipelajari dan lainnya itu bukan bid'ah karena termasuk masih dalam koridor hadist

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها"

Barang siapa yang merintis tindakan baik dalam islam maka baginya pahala dari tindakan baik itu dan pahala orang yang melakukan tindakan baik itu.

Adapun apabila ada yang menyebutkan bahwa bid'ah itu ada yang hasanah dan sayyiah maka itu apabila memandang dari sudut pandang bid'ah secara bahasa. Jadi  membuat madrasah, mencetak Al-Qur'an, menandai tulisan Al-Qur'an itu adalah memang bid'ah tapi termasuk hasanah (baik). Tapi ingat sejatinya bukan bid'ah secara syariat

Karena membangun pondok, madrasah itu nanti untuk supaya terciptanya kegiatan belajar mengajar dan sudah banyak hadist yang menjelaskan tentang kebaikan belajar mengajar, menandai tulisan Al-Qur'an untuk supaya lebih mudah mempelajari Al-Qur'an, hadis tentang mempelajari Al-Qur'an sudah mashur.

Banyak hal di dunia ini yang memang termasuk bid'ah secara bahasa tapi sejatinya bukanlah bid'ah dalam syariat.

Wallahun A'lam

Silahkan pendapat teman teman.

TAHLIL

TAHLIL

Tahukah bahwa ruqyah itu sebenarnya juga tradisi jahiliah? Bahkan dulunya termasuk syirik?

Perhatian hadist berikut

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah ruqyah , jimat, dan pelet adalah kesyirikan.” (HR. Abu Daud no. 3385, Ibnu Majah no. 3521, dan Ahmad no. 3433)

Lalu perhatikan hadist berikut

Auf bin Malik Al Asyja’i berkata;

كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

“Kami biasa melakukan ruqyah pada masa jahiliyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah! bagaimana pendapatmu tentang ruqyah?’ beliau menjawab, “Peragakanlah cara ruqyah kalian itu kepadaku. Tidak ada masalah dengan ruqyah selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim no. 4079)

Ruqyah yang asalnya syirik ternyata oleh Rasulullah diperbolehkan apabila kesyirikannya tidak ada di dalamnya.

Sekarang TAHLIL.

Secara bahasa tahlil artinya adalah mengucapkan LAA ILAAHA ILLAALLOH

Secara kebiasaan Mungkin di Indonesia banyak cara melakukan tahlil tapi saya simpulkan bahwa Tahlil itu berisi setidaknya

1. Membaca Al-Qur'an
2. Membaca dzikir
3. Berdoa

Dari tiga hal tersebut adakah dalilnya? Pasti banyak.

Tahlilan itu tidaklah wajib jadi apabila ada yang tidak melakukan juga tidak masalah.

Ruqyah apabila memang ada kesyirikan itu memang jelas salah

Tahlil kalau memang ada kesyirikan itu juga salah.

Tapi tahlilan yang isinya 3 hal di atas apa ada kesyirikannya?

Mengenai doa dalam tahlil

أدعوني أستجب لكم

Berdoalah kalian semua kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuk kalian.

Setiap orang berhak berdoa mungkin minta diberikan rizki, rumah, dan macam macam karena doa isinya tergantung dari keinginan si pendoa. Dan si pendoa yakin bahwa Allah Maha Kuasa. Kuasa untuk mengabulkan doanya

Ketika seorang muslim membaca Al-Qur'an, dan berdzikir memang Allah janjikan pahalanya untuk dirinya. Tapi ketika seorang muslim itu berdoa kepada Allah seperti ini

"Ya Allah berikanlah pahala bacaan Al-Qur'anku dan dzikirku untuk fulan bin fulan (orang yang telah mati )"

Kira kira Allah bisa tidak mengabulkan doa itu. Bagaimana pendapat teman teman?

Jumat, 29 April 2016

Dua bagian agama

Ada 2 bagian dalam agama islam ini

1. Meninggalkan larangan
2. Menjalankan taat

*Meninggalkan larangan terasa amat berat berbeda dengan ketaatan. Melakukan ketaatan masih umum banyak yang mampu melakukannya sedangkan meninggalkan keinginan ego tidak akan mampu kecuali orang orang yang sangat mendalam keyakinannya. Oleh karena itu Rasulullah bersabda

Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan dan orang yang berjihad adalah orang yang memerangi keinginan egonya.

Ketika kita berlaku maksiat sebenarnya kita melakukan itu dengan fasilitas yang Allah berikan kepada kita seperti dengan mata, mulut dan sebagainya yang itu semua adalah hakikatnya adalah nikmat dan amanah dari-Nya untuk kita. Yah itu semua AMANAH, jadi jangan sampai kita merasa bahwa kita telah menjadi orang yang AMANAH kalau masih belum mampu menjaga anggota tubuh lahir dan batin kita. Maka dari itu sebenarnya sangat sulit ditemukan di zaman sekarang orang yang benar-benar amanah. Semoga kita sedang menuju ke sifat amanah itu.

Menggunakan fasilitas nikmat Allah untuk mendurhakai-Nya adalah hal yang sungguh kufur dan berkhianat terhadap amanah-Nya adalah sungguh kesalahan fatal. Setiap anggota tubuh kita adalah laksana rakyat kita. Maka coba kita lihat diri ini bagaimanakah kita dalam menjaga mereka (anggota tubuh). Setiap kita adalah PEMELIHARA dan setiap kita akan dipertanyakan tentang pemeliharaan kita.

Menulis adalah salah satu caraku untuk mengikat dan mengingat ilmu, dan jalan untuk menasihati dan mencambuk diri sendiri.

Jumat, 22 April 2016

Kepribadian

Segala puji bagi Allah yang mana Dia menciptakan berbagai macam makhluk. Dan di antara makhluk tersebut ada yang namanya manusia. Pada diri manusia pun Allah menciptakan berbagai perbedaan, ada yang senang dan menikmati kesendiriannya juga sangat tertutup pribadinya atau ada yang mengistilahkannya INTROVERT, ada juga yang senang dan tambah bersemangat apabila berkumpul dengan lainnya, senantiasa mudah terbuka atau ada yang mengistilahkannya EKSTROVERT. Disamping pengelompokan ke dua istilah tersebut ada juga yang mengelompokan pribadi dasar manusia ke dalam 4 macam
1. Koleris : Cenderung suka memimpin dan tidak takut tantangan
2. Sanguin : Cenderung riang, penuh semangat
3. Melankolis : Cenderung ingin kesempurnaan dan teliti
4. Phelagmatis : Cenderung santai dan tenang
Dari 4 kepribadian itu dalam diri manusia terkadang juga terkombinasi dari 2 kepribadian misalnya koleris+melankolis atau melankolis+phelagmatis dan lainnya. Kalau di kalangan Indonesia bahkan ada yang mengelompokkan suatu daerah atau suku tertentu dengan ciri khas kepribadian tertentu. Mungkin pernah kita dengar orang berkata "orang jawa itu lembut" ada juga "orang batak itu keras" dan lain sebagainya.

Sebenarnya baik dari kepribadian kepribadian itu ada kekurangan dan kelebihan masing masing yang bisa dijadikan cermin antara satu dan lainnya untuk mengetahui kelebihan kelebihan dan kekurangan kekurangan masing-masing. Lalu bagaimanakah caranya kekurangan kekurangan itu diperbaiki dan apa ukuran yang ideal itu? Untuk memperbaiki itu maka  Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyempurnakan akhlak akhlak yang masih kurang pada diri manusia. Yah, Rosulullah adalah sebagai panutan kita, sebagai penyeimbang kepribadian manusia. Beliau Sang Pemimpin yang penuh semangat begitu teliti dan begitu tenang. Lalu bagaimana kita meneladani beliau sedangkan beliau sudah tiada? Kita masih bisa meneladani Akhlak beliau melalui Al-qur'an dan Al-hadist. Pernahkah kita dengar kata kata berikut "Rasulullah Akhlaknya adalah Al-qur'an" atau "Rasulullah adalah Al-qur'an yang berjalan"?. Namun terkadang kita kesulitan untuk memahami Al-qur'an maka dari itu Allah melahirkan ulama ulama sebagai pewaris Rasulullah, kita mempelajari karya karya beliau yang mana tersirat untaian kata kata bijak nan indah untuk supaya kita memahaminya.

Tapi kenapa kita sulit untuk mengamalkan nasehat nasehat dari para ulama?

Mungkin ada beberapa faktor penyebabnya tapi salah satunya adalah hati i kita memang masih bodoh. Kita ibaratkan saja sebagai pasien dan para Nabi dan Rasul serta para Ulama itu adalah dokternya. Kita Sang pasien hanya mengikuti anjuran anjuran dokter tersebut dalam meminum obat tanpa mengetahui perincian obat itu dan bahan bahan obat itu. Dengan menjalankan apa saran saran dokter tersebut dan melakukannya secara konsisten diharapkan lama lama efek akan terasa dalam hati.
Memang beda penyakit fisik dan penyakit hati. Penyakit fisik akan mudah terasa apabila menyerang seseorang akan tetapi penyakit hati sulit diidentifikasi kecuali dengan perenungan yang mendalam. Masih ingatkah kebandelan kita waktu kita masih kecil? Apakah ketika itu kita merasa bersalah dalam kebandelan kita? Atau baru kita sadari setelah kita merenung dan akal kita semakin dewasa?
Merenung atau tafakkur tentang diri memang sangat penting karena dengan merenung hati kita semakin dewasa.

Ustadzah bagaimana pandangan Njenengan tentang ini?

Oiya tidak lupa saya ucapkan banyak terimakasih untuk Pak Heri dan Bu Tia yang pernah meminjami saya buku tentang personality, dari buku tersebut saya menjadi sedikit tahu tentang pengelompokan kepribadian manusia.

Syukron

Rabu, 06 April 2016

Tasawwuf

TASAWWUF

Kita tahu bahwa dalam diri manusia itu ada jasmani dan rohani,
Kita juga tahu bahwa dalam agama islam itu berisi perintah dan larangan.

Jasmani dan rohani dalam agama kita memiliki aturan masing masing.

Kita ambil contoh shalat.
Ketika kita shalat tugas jasmani kita adalah melakukan suatu perbuatan yang berisi bacaan bacaan tertentu dan gerakan gerakan tertentu serta menghindari dari melakukan hal hal tertentu supaya shalat tidak batal.
Adapun rohani kita tugasnya adalah berusaha khusyu' ketika melakukan shalat tersebut dan menghindari dari terjadinya ketidak konsentrasian Dan banyak contoh ibadah ibadah lain baik ibadah mahdloh ataupun ghairu mahdloh, baik dalam bergaul dengan Allah maupun bergaul dengan sesama makhluk.

Jadi Tasawwuf itu adalah kita senantiasa berusaha melakukan dan menjalankan agama secara penuh lahir dan batin kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun. Baik dalam keadaan sehat, sakit atau dalam berbisnis, menjadi petani, menjadi karyawan, menjadi pemimpin dan perbuatan perbuatan lainnya yang intinya itu adalah MENJAGA ADAB dalam setiap waktu dan keadaan supaya sesuai dengan tuntutan agama.

إن التصوف كله لهو الأدب
Sesungguhnya tasawwuf seluruhnya adalah ADAB. (Hidayatul Adzkiya)

Jadi apabila kita beranggapan bahwa tasawwuf tidak mementingkan syariat itu adalah kesalahan.

Maka seumpama kita secerdas dan sebaik apapun hatinya apabila kita kemana mana telanjang maka kita tidak bisa dianggap manusia yang normal.

Atau Sebagus apapun pakaian yang kita kenakan akan tetapi cara berfikir dan perilaku kita sembarangan maka kita pun tidak bisa dianggap manusia yang baik.

Jadi hati dan jasad harus tetap selaras dengan aturan agama.

Minggu, 21 Februari 2016

Permulaan hidayah itu?

Masih lanjutan catatan catatan kajian di atas

Setelah Sang penulis membeberkan tentang macam macam seseorang dalam mengaji, sekarang penulis akan memulai menjelaskan tentang apa sih PERMULAAN HIDAYAH yang dulu pernah disinggung di kajian sebelumnya?

Baik, ketika di hati kita menanyakan tentang Bidayatul hidayah (permulaan petunjuk) untuk nantinya kita menge-tes dan mengoreksi diri kita dan melatih nafsu kita maka beliau menjawab bahwa "Permulaan hidayah itu adalah dzahir/bagian luar dari ketakwaan, sedangkan puncak dari hidayah itu adalah bathin/bagian dalam dari ketakwaan. Tidak ada kesuksesan sejati kecuali dengan ketakwaan dan tidak ada hidayah kecuali bagi orang orang yang bertaqwa"

Taqwa adalah menjalankan perintah perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya

*jadi maksudnya adalah apabila kita sudah menghiasi diri kita dengan perilaku perilaku perintah agama walaupun mungkin di hati masih terasa berat dan malas serta menjauhi larangan larangan agama walaupun mungkin masih terasa berat juga, maka itu adalah awal kita melangkah di permulaan hidayah.

Adapun apabila hati kita sudah merasakan indahnya beribadah sebagaimana Rasulullah dan para orang orang shalih lainnya sehingga shalat kita menjadi sangat khusyu' dan mencegah diri kita dari perbuatan keji dan mungkar, terasa sangat menenangkan hati, tutur kata dan budi pekerti kita menjadi indah dan penuh hikmah yang pada intinya semua ketaatan dan larangan sudah bisa kita patuh dengan penuh keikhlasan dan keridloan serta kenyamanan walaupun seumpama hanya melakukan sendirian, maka ketika itu kita mulai menuju pada puncaknya hidayah sehingga tercermin dari semua perbuatan kita yang ikhlas,

Sungguh mengagumkan urusan orang yang sudah seperti itu, semua perkara orang tersebut itu menjadi baik. Apabila ia tertimpa kesusahan ia mampu bersabar dan ikhlas dari hati yang paling dalam, maka ia mendapatkan kebaikan dan pahala. Ketika tertimpa kebahagiaan ia bersyukur, maka ia juga mendapatkan kebaikan dan pahala.

Lalu sudahkah kita seperti itu? Sudah maniskah hati kita? Ketika hati kita manis maka yang keluar dari budi pekerti kita juga manis. Ketika hati kita masih pahit maka ya mungkin terkadang kita masih bisa luarnya terlihat manis akan tetapi kepahitan hati kita akan terlihat dari cara ketika kita melupakan emosi, bagaimana cara kita berinteraksi dengan orang yang berperilaku buruk terhadap kita, dan bagaimana cara kita berdialog dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita.

*Ada sebuah khadis tentang perdebatan semoga kita bisa mengambil pelajaran

من ترك المراء و هو مبطل بنى الله له بيتا في ربض الجنة و من ترك المراء و هو محق بنى الله له بيتا في أعلى الجنة

"Barang siapa Siapa  yang meninggalkan  perdebatan  sedang  ia  dalam  keadaan  salah,  maka  Allah  akan  membangun untuknya  sebuah  rumah  di  tepi  surga.  Dan barangsiapa siapa  yang  meninggalkan  perdebatan  padahal  dia dalam  posisi  yang  benar, maka Allah  akan  membangun  untuknya  sebuah  rumah  di  surga  yang paling  tinggi.”

Karena ketakwaan itu berisi perintah dan larangan maka Sang Penulis membuat kitab ini berisi
1. Adab adab ketaatan/perintah
2. Adab adab menjauhi larangan
Dan akan ditambahkan bagian ketiga yaitu
3. Adab adab pergaulan.

Untuk rabu besok in syaa Allah kita sudah akan memulai bagian yang pertama.

Semoga bermanfaat aamiin.