Jumat, 29 April 2016

Dua bagian agama

Ada 2 bagian dalam agama islam ini

1. Meninggalkan larangan
2. Menjalankan taat

*Meninggalkan larangan terasa amat berat berbeda dengan ketaatan. Melakukan ketaatan masih umum banyak yang mampu melakukannya sedangkan meninggalkan keinginan ego tidak akan mampu kecuali orang orang yang sangat mendalam keyakinannya. Oleh karena itu Rasulullah bersabda

Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan dan orang yang berjihad adalah orang yang memerangi keinginan egonya.

Ketika kita berlaku maksiat sebenarnya kita melakukan itu dengan fasilitas yang Allah berikan kepada kita seperti dengan mata, mulut dan sebagainya yang itu semua adalah hakikatnya adalah nikmat dan amanah dari-Nya untuk kita. Yah itu semua AMANAH, jadi jangan sampai kita merasa bahwa kita telah menjadi orang yang AMANAH kalau masih belum mampu menjaga anggota tubuh lahir dan batin kita. Maka dari itu sebenarnya sangat sulit ditemukan di zaman sekarang orang yang benar-benar amanah. Semoga kita sedang menuju ke sifat amanah itu.

Menggunakan fasilitas nikmat Allah untuk mendurhakai-Nya adalah hal yang sungguh kufur dan berkhianat terhadap amanah-Nya adalah sungguh kesalahan fatal. Setiap anggota tubuh kita adalah laksana rakyat kita. Maka coba kita lihat diri ini bagaimanakah kita dalam menjaga mereka (anggota tubuh). Setiap kita adalah PEMELIHARA dan setiap kita akan dipertanyakan tentang pemeliharaan kita.

Menulis adalah salah satu caraku untuk mengikat dan mengingat ilmu, dan jalan untuk menasihati dan mencambuk diri sendiri.

Jumat, 22 April 2016

Kepribadian

Segala puji bagi Allah yang mana Dia menciptakan berbagai macam makhluk. Dan di antara makhluk tersebut ada yang namanya manusia. Pada diri manusia pun Allah menciptakan berbagai perbedaan, ada yang senang dan menikmati kesendiriannya juga sangat tertutup pribadinya atau ada yang mengistilahkannya INTROVERT, ada juga yang senang dan tambah bersemangat apabila berkumpul dengan lainnya, senantiasa mudah terbuka atau ada yang mengistilahkannya EKSTROVERT. Disamping pengelompokan ke dua istilah tersebut ada juga yang mengelompokan pribadi dasar manusia ke dalam 4 macam
1. Koleris : Cenderung suka memimpin dan tidak takut tantangan
2. Sanguin : Cenderung riang, penuh semangat
3. Melankolis : Cenderung ingin kesempurnaan dan teliti
4. Phelagmatis : Cenderung santai dan tenang
Dari 4 kepribadian itu dalam diri manusia terkadang juga terkombinasi dari 2 kepribadian misalnya koleris+melankolis atau melankolis+phelagmatis dan lainnya. Kalau di kalangan Indonesia bahkan ada yang mengelompokkan suatu daerah atau suku tertentu dengan ciri khas kepribadian tertentu. Mungkin pernah kita dengar orang berkata "orang jawa itu lembut" ada juga "orang batak itu keras" dan lain sebagainya.

Sebenarnya baik dari kepribadian kepribadian itu ada kekurangan dan kelebihan masing masing yang bisa dijadikan cermin antara satu dan lainnya untuk mengetahui kelebihan kelebihan dan kekurangan kekurangan masing-masing. Lalu bagaimanakah caranya kekurangan kekurangan itu diperbaiki dan apa ukuran yang ideal itu? Untuk memperbaiki itu maka  Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyempurnakan akhlak akhlak yang masih kurang pada diri manusia. Yah, Rosulullah adalah sebagai panutan kita, sebagai penyeimbang kepribadian manusia. Beliau Sang Pemimpin yang penuh semangat begitu teliti dan begitu tenang. Lalu bagaimana kita meneladani beliau sedangkan beliau sudah tiada? Kita masih bisa meneladani Akhlak beliau melalui Al-qur'an dan Al-hadist. Pernahkah kita dengar kata kata berikut "Rasulullah Akhlaknya adalah Al-qur'an" atau "Rasulullah adalah Al-qur'an yang berjalan"?. Namun terkadang kita kesulitan untuk memahami Al-qur'an maka dari itu Allah melahirkan ulama ulama sebagai pewaris Rasulullah, kita mempelajari karya karya beliau yang mana tersirat untaian kata kata bijak nan indah untuk supaya kita memahaminya.

Tapi kenapa kita sulit untuk mengamalkan nasehat nasehat dari para ulama?

Mungkin ada beberapa faktor penyebabnya tapi salah satunya adalah hati i kita memang masih bodoh. Kita ibaratkan saja sebagai pasien dan para Nabi dan Rasul serta para Ulama itu adalah dokternya. Kita Sang pasien hanya mengikuti anjuran anjuran dokter tersebut dalam meminum obat tanpa mengetahui perincian obat itu dan bahan bahan obat itu. Dengan menjalankan apa saran saran dokter tersebut dan melakukannya secara konsisten diharapkan lama lama efek akan terasa dalam hati.
Memang beda penyakit fisik dan penyakit hati. Penyakit fisik akan mudah terasa apabila menyerang seseorang akan tetapi penyakit hati sulit diidentifikasi kecuali dengan perenungan yang mendalam. Masih ingatkah kebandelan kita waktu kita masih kecil? Apakah ketika itu kita merasa bersalah dalam kebandelan kita? Atau baru kita sadari setelah kita merenung dan akal kita semakin dewasa?
Merenung atau tafakkur tentang diri memang sangat penting karena dengan merenung hati kita semakin dewasa.

Ustadzah bagaimana pandangan Njenengan tentang ini?

Oiya tidak lupa saya ucapkan banyak terimakasih untuk Pak Heri dan Bu Tia yang pernah meminjami saya buku tentang personality, dari buku tersebut saya menjadi sedikit tahu tentang pengelompokan kepribadian manusia.

Syukron

Rabu, 06 April 2016

Tasawwuf

TASAWWUF

Kita tahu bahwa dalam diri manusia itu ada jasmani dan rohani,
Kita juga tahu bahwa dalam agama islam itu berisi perintah dan larangan.

Jasmani dan rohani dalam agama kita memiliki aturan masing masing.

Kita ambil contoh shalat.
Ketika kita shalat tugas jasmani kita adalah melakukan suatu perbuatan yang berisi bacaan bacaan tertentu dan gerakan gerakan tertentu serta menghindari dari melakukan hal hal tertentu supaya shalat tidak batal.
Adapun rohani kita tugasnya adalah berusaha khusyu' ketika melakukan shalat tersebut dan menghindari dari terjadinya ketidak konsentrasian Dan banyak contoh ibadah ibadah lain baik ibadah mahdloh ataupun ghairu mahdloh, baik dalam bergaul dengan Allah maupun bergaul dengan sesama makhluk.

Jadi Tasawwuf itu adalah kita senantiasa berusaha melakukan dan menjalankan agama secara penuh lahir dan batin kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun. Baik dalam keadaan sehat, sakit atau dalam berbisnis, menjadi petani, menjadi karyawan, menjadi pemimpin dan perbuatan perbuatan lainnya yang intinya itu adalah MENJAGA ADAB dalam setiap waktu dan keadaan supaya sesuai dengan tuntutan agama.

إن التصوف كله لهو الأدب
Sesungguhnya tasawwuf seluruhnya adalah ADAB. (Hidayatul Adzkiya)

Jadi apabila kita beranggapan bahwa tasawwuf tidak mementingkan syariat itu adalah kesalahan.

Maka seumpama kita secerdas dan sebaik apapun hatinya apabila kita kemana mana telanjang maka kita tidak bisa dianggap manusia yang normal.

Atau Sebagus apapun pakaian yang kita kenakan akan tetapi cara berfikir dan perilaku kita sembarangan maka kita pun tidak bisa dianggap manusia yang baik.

Jadi hati dan jasad harus tetap selaras dengan aturan agama.