Segala puji bagi Allah yang mana Dia menciptakan berbagai macam makhluk. Dan di antara makhluk tersebut ada yang namanya manusia. Pada diri manusia pun Allah menciptakan berbagai perbedaan, ada yang senang dan menikmati kesendiriannya juga sangat tertutup pribadinya atau ada yang mengistilahkannya INTROVERT, ada juga yang senang dan tambah bersemangat apabila berkumpul dengan lainnya, senantiasa mudah terbuka atau ada yang mengistilahkannya EKSTROVERT. Disamping pengelompokan ke dua istilah tersebut ada juga yang mengelompokan pribadi dasar manusia ke dalam 4 macam
1. Koleris : Cenderung suka memimpin dan tidak takut tantangan
2. Sanguin : Cenderung riang, penuh semangat
3. Melankolis : Cenderung ingin kesempurnaan dan teliti
4. Phelagmatis : Cenderung santai dan tenang
Dari 4 kepribadian itu dalam diri manusia terkadang juga terkombinasi dari 2 kepribadian misalnya koleris+melankolis atau melankolis+phelagmatis dan lainnya. Kalau di kalangan Indonesia bahkan ada yang mengelompokkan suatu daerah atau suku tertentu dengan ciri khas kepribadian tertentu. Mungkin pernah kita dengar orang berkata "orang jawa itu lembut" ada juga "orang batak itu keras" dan lain sebagainya.
Sebenarnya baik dari kepribadian kepribadian itu ada kekurangan dan kelebihan masing masing yang bisa dijadikan cermin antara satu dan lainnya untuk mengetahui kelebihan kelebihan dan kekurangan kekurangan masing-masing. Lalu bagaimanakah caranya kekurangan kekurangan itu diperbaiki dan apa ukuran yang ideal itu? Untuk memperbaiki itu maka Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menyempurnakan akhlak akhlak yang masih kurang pada diri manusia. Yah, Rosulullah adalah sebagai panutan kita, sebagai penyeimbang kepribadian manusia. Beliau Sang Pemimpin yang penuh semangat begitu teliti dan begitu tenang. Lalu bagaimana kita meneladani beliau sedangkan beliau sudah tiada? Kita masih bisa meneladani Akhlak beliau melalui Al-qur'an dan Al-hadist. Pernahkah kita dengar kata kata berikut "Rasulullah Akhlaknya adalah Al-qur'an" atau "Rasulullah adalah Al-qur'an yang berjalan"?. Namun terkadang kita kesulitan untuk memahami Al-qur'an maka dari itu Allah melahirkan ulama ulama sebagai pewaris Rasulullah, kita mempelajari karya karya beliau yang mana tersirat untaian kata kata bijak nan indah untuk supaya kita memahaminya.
Tapi kenapa kita sulit untuk mengamalkan nasehat nasehat dari para ulama?
Mungkin ada beberapa faktor penyebabnya tapi salah satunya adalah hati i kita memang masih bodoh. Kita ibaratkan saja sebagai pasien dan para Nabi dan Rasul serta para Ulama itu adalah dokternya. Kita Sang pasien hanya mengikuti anjuran anjuran dokter tersebut dalam meminum obat tanpa mengetahui perincian obat itu dan bahan bahan obat itu. Dengan menjalankan apa saran saran dokter tersebut dan melakukannya secara konsisten diharapkan lama lama efek akan terasa dalam hati.
Memang beda penyakit fisik dan penyakit hati. Penyakit fisik akan mudah terasa apabila menyerang seseorang akan tetapi penyakit hati sulit diidentifikasi kecuali dengan perenungan yang mendalam. Masih ingatkah kebandelan kita waktu kita masih kecil? Apakah ketika itu kita merasa bersalah dalam kebandelan kita? Atau baru kita sadari setelah kita merenung dan akal kita semakin dewasa?
Merenung atau tafakkur tentang diri memang sangat penting karena dengan merenung hati kita semakin dewasa.
Ustadzah bagaimana pandangan Njenengan tentang ini?
Oiya tidak lupa saya ucapkan banyak terimakasih untuk Pak Heri dan Bu Tia yang pernah meminjami saya buku tentang personality, dari buku tersebut saya menjadi sedikit tahu tentang pengelompokan kepribadian manusia.
Syukron
Tidak ada komentar:
Posting Komentar