Catatan kajian Rabu, 17 Februari 2016
Sebelum kita menuju bahasan pokok kajian ini yaitu tentang keadaan keadaan manusia dalam mengaji, mari kita tengok terlebih dahulu ke masa awal awal islam
Pemimpin islam dahulu adalah pemimpin yang sungguh hebat, pemimpin islam dahulu selain ahli dalam memutuskan masalah masalah keagamaan juga ahli dan sangat teliti dalam memutuskan masalah masalah kemashlahat umat. Yah Nabi Muhammad SAW, dan para khulafa urrasyidin yang masih dekat dengan zaman Rasulullah beliau beliau adalah pemimpin yang hebat dan tidak usah meminta bantuan kepada ahli hukum islam, kalaupun ada itu sangat jarang sekali. Yaitu ketika ada sesuatu peristiwa yang memang harus dimusyawarhkan.
Dari itu maka para alim ulama di zaman tersebut dapat memfokuskan perhatian dan segala kesungguhannya kepada ilmu akhirat. Menolak mengeluarkan fatwa dan apa yang ada hubungannya dengan hukum duniawi . Mereka menghadapkan diri dengan kesungguhan yang maksimal kepada Allah sebagai yang dapat kita baca pada riwayat riwayat hidup para alim ulama tersebut.
Akan tetapi seiring bertambahnya waktu, para pemimpin pemimpin yang sekaligus ahli dalam bidang hukum agama mulai sulit dicari, maka dari itu pemimpin pemimpin tersebut terpaksa meminta bantuan kepada ulama ulama ahli hukum agama dan menyertakan mereka dalam segala hal untuk meminta fatwa dalam menjalankan hukum.
Dalam pada itu, masih ada juga ulama tabi'in yang tetap masih di suasana yang lampau, berpegang teguh pada tradisi agama, tidak melepaskan ciri ciri ulama salaf (terdahulu), mereka ini bila diminta lalu menolak dan melarikan diri sehingga terpaksalah para khalifah dan zaman tersebut melakukan pemaksaan dalam pengangkatan anggota kehakiman dan pemerintahan.
Nah ketika masyarakat umum tahu tentang hal ini, terlihatlah bagi mereka kebesaran para ulama dan perhatian para pembesar dan penguasa negara kepada ulama tersebut. Sedangkan dari pihak alim ulama itu sendiri menolak dan menjauhkan diri.
Lalu timbullah di masyarakat umum keinginan mencari ilmu demi ingin memperoleh kemuliaan dan kemegahan dari pembesar negara, mereka bertekun mempelajari ilmu yang berhubungan dengan fatwa dan hukum. Kemudian datang ke penguasa negeri memohonkan kedudukan dan jabatan.
Diantaranya ada yang ditolak ada juga yang diterima. Yang diterima tidak luput dari kehinaan meminta minta dan mohon dikasihani maka jadilah para ulama itu meminta minta setelah sebelumnya diminta minta oleh para penguasa. Kedudukan para ulama jadi seolah jatuh di hadapan ahli dunia.
*Dalam kitab ta'limul muta'alim As-syaikh Azzarnuji menyebutkan boleh mencari kedudukan demi sekiranya bisa menjalankan amar ma'ruf nahi munkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), memperjuangkan kebenaran, meluhurkan islam dan bukan untuk ego dan diri sendiri. Akan tetapi hal ini tidak boleh dilakukan oleh sembarangan orang, karena hal seperti ini membutuhkan orang yang terlatih baik kebersihan hati dan kecerdasan pola fikir supaya bisa tetap menjaga amanah dan berkhidmah dengan sebaik-baiknya. Jadi kita berharap hasil dari mengaji kita nantinya kita bisa mengendalikan hati kita sendiri utamanya dan ketika hati kita baik maka seluruh anggota badan kita pun ikut baik dan semoga kebaikan itu tertular kepada yang lainnya.
Baik, sekarang kita langsung menuju ke pokok pembahasan.
Jadi sang penulis itu menjelaskan bahwa keadaan seseorang dalam mengaji itu ada 3 tingkatan
1. Mengaji untuk mencari bekal bagi akhiratnya dan hanya demi kridloan (kepuasan) Allah dan tempat tinggal akhirat. Maka golongan ini termasuk golongan yang beruntung. Semoga kita termasuk di dalamnya
*Ada sebuah nasihat yang pernah saya baca seperti ini
"beribadahlah, bukan untuk supaya kamu diberikan sesuatu akan tetapi supaya Allah puas denganmu. Maka apabila Allah puas denganmu, kamu akan silau dengan pemberian pemberian-Nya yang sungguh menakjubkan.
2. Mengaji demi dunia, demi mendapatkan keagungan kekuasaan dan kedudukan serta harta melimpah, Akan tetapi golongan ini menyadari dalam hatinya bahwa keadaan seperti ini adalah lemah dan tujuan seperti ini adalah hina. Golongan ini termasuk dalam keadaan yang mengkhawatirkan karena apabila tiba-tiba ajal menjemput dikhawatirkan matinya dalam keadaan su'ul khatimah dan keadaannya akan tetap dalam kekhawatiran kehendak Allah. Akan tetapi apabila golongan ini mendapat taufiq untuk bertaubat sebelum ajal menjemput dan lalu mengamalkan ilmunya serta memperbaiki dirinya maka golongan ini bisa menyusul ke golongan pertama yaitu menjadi golongan orang yang beruntung.
Untuk uraian golongan ke tiga in syaa Allah kita lanjutkan nanti nggih.
Semoga Allah meridloi kita aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar